KISAH KEEMPAT
KISAH HAJAR DAN ISMAIL
Ini
adalah kisah yang panjang dan alurnya mengalir jelas. Peristiwanya gambling,
yang menceritakan tentang bapak kita Ismail bin Khalilullah Ibrahim a.s. dan
tentang ibu kita Hajar Ummu Ismail. Semua orang Arab adalah keturunan Ismail.
Ada yang menyatakan bahawa sebahagian orang Arab berasal dari asal-usul Arab
kuno yang bukan anak keturunan Ismail. Ibu kita Hajar adalah wanita Mesir yang
dihadiahkan oleh penguasa dzalim Mesir kepada Sarah dalam sebuah kisah yang
akan disebutkan selanjutnya.
Manakala
Ibrahim belum kunjung dikurniai anak dari isterinya, Sarah, maka Sarah
memberikan hamba sahayanya kepada Ibrahim untuk dinikahi dengan harapan bahawa
darinya Allah akan memberi anak. Hajar pun hamil dan melahirkan Ismail di bumi
yang penuh berkah, Palestina.
Rasulullah
s.a.w. menceritakan kisah Hajar kepada kita, apa yang terjadi antara dia dengan
Sarah dan bagaimana Allah memerintahkan Ibrahim agar pindah bersama Hajar dan
Ismail ke belahan bumi termulia (Makkah). Rasulullah s.a.w. menjelaskan keadaan
tempat di mana Hajar dan putranya, Ismail, berdiam. Beliau menjelaskan kepada
kita tentang Ibrahim yang meninggalkan keduanya di tempat yang sepi, tanpa
makanan, minuman dan penduduk. Beliau juga menjelaskan apa yang terjadi dengan
Hajar dan Ismail sepeninggal Ibrahim sampai akhirnya Ibrahim dan Ismail
membangun Baitullah Al-Haram sebagai rumah pertama yang diletakkan untuk
manusia. Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Said bin Jubair yang
berkata bahawa Ibnu Abbas berkata, "Wanita pertama yang membuat ikat
pinggang adalah ibu Ismail.
Hal
itu ia lakukan agar dapat menutupi jejak kakinya dari Sarah. Kemudian Ibrahim
membawa isteri dan putranya, Ismail, yang masih disusuinya. Hingga akhirnya
Ibrahim menempatkan keduanya di dekat Baitullah di sisi sebuah pohon besar di
atas sumur Zamzam di bahagian atas Masjidil Haram. Pada saat itu Makkah tidak
berpenghuni seorang pun, dan tidak ada air. Beliau meninggalkan keduanya, juga
meletakkan sebuah kantong berisi kurma dan kantong kulit berisi air. Ketika
Ibrahim melangkah pergi, Hajar menyusulnya seraya bertanya, "Wahai
Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di
lembah yang tidak ada seorang manusia pun dan tidak ada sesuatu pun?"
Hajar terus-menerus menanyakan hal itu, dan Ibrahim tidak menoleh kepadanya.
Maka Hajar bertanya kembali, "Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan
ini?" Ibrahim menjawab, "Ya." Hajar pun berucap, "Kalau
memang demikian, Dia tidak akan mengabaikan kami."
Selanjutnya
Hajar kembali. Ibrahim terus berjalan hingga ketika sampai di sebuah bukit di
mana mereka tidak melihatnya, beliau menghadapkan wajahnya ke Baitullah, lalu
berdoa dengan beberapa kalimat seraya mengangkat kedua tangannya dan
mengucapkan, "Ya Tuhan kami,
sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak
mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan
kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan solat, maka jadikanlah hati
sebahagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah rezeki kepada mereka
dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur. " (QS. Ibrahim: 37)
Hajar
menyusui Ismail dan meminum dari air yang berada di dalam kantong kulit. Air
sudah habis, ia merasa kehausan, demikian pula putranya yang merengek-rengek
kehausan. Ia pun pergi kerana tidak tega melihatnya. Hingga ia menemukan Shafa,
gunung yang paling dekat dengannya. Maka ia berdiri di atasnya, menghadap ke
lembah sambil melihat-lihat adakah seseorang, tetapi dia tidak melihat seorang
pun. Setelah turun dari Shafa, ia sampai di lembah, ia mengangkat ujung bajunya
dan berusaha keras seperti orang yang berjuang mati-matian, hingga berhasil
melewati lembah. Lalu dia mendatangi Marwah, berdiri di atasnya sembari melihat
apakah ada seseorang yang dapat dilihatnya, tetapi dia tetap tidak melihat
seorang pun. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali."
Ibnu
Abbas mengatakan bahawa Nabi s.a.w. berkata, "kerana hal inilah
orang-orang melakukan sa'i di antara keduanya (Shafa dan Marwah)." Ketika
mendekati Marwah, ia mendengar sebuah suara. Ia pun berkata kepada dirinya,
"Diam. kemudian ia berusaha mendengar lagi hingga ia pun mendengarnya.
Lalu ia berkata, "Engkau telah memperdengarkan. Adakah Engkau dapat
menolong?" Tiba-tiba ia mendapatkan Malaikat di tempat sumber air Zamzam.
Kemudian Malaikat itu menggali tanah dengan tumitnya - dalam riwayat lain,
dengan sayapnya- hingga muncullah air. Ia membendung air dengan tangannya. Ia
menciduk dan memasukkan air itu ke kantongnya. Air itu terus mengalir deras
setelah ia menciduknya."
Ibnu
Abbas mengatakan bahawa Nabi s.a.w. bersabda, "Semoga Allah melimpahkan
rahmat kepada ibu Ismail, jika saja ia membiarkan Zamzam.” Atau beliau
bersabda, ”Seandainya ia tidak menciduk airnya, nescaya Zamzam menjadi mata air
yang mengalir."
Lebih
lanjut, Ibnu Abbas mengatakan bahawa kemudian ia meminum air itu dan menyusui
anaknya. Lalu Malaikat berkata kepadanya, "Janganlah engkau kuatir akan
disia-siakan, kerana di sini terdapat sebuah rumah Allah yang akan dibangun
oleh anak ini dan bapaknya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan
penduduknya." Posisi rumah Allah itu terletak lebih tinggi dari permukaan
bumi, seperti sebuah anak bukit yang diterpa banjir sehingga mengikis bahagian
kiri dan kanannya.
keadaan
ibu Ismail terus seperti itu sampai sekelompok Bani Jurhum atau sebuah keluarga
dari kalangan Bani Jurhum melewati mereka. Mereka datang melalui jalan Keda'.
Kemudian mereka mendiami daerah Makkah yang paling bawah. Mereka melihat seekor
burung berputar di angkasa, mereka berkata, "Burung itu pasti sedang
mengitari air. Kita mengenal bahawa di lembah ini tidak ada air." Mereka
pun mengutus satu atau dua orang. Ternyata utusan itu menemukan air. Lalu
mereka kembali dan memberitahukan perihal air tersebut. Maka mereka pun datang.
Ibnu Abbas selanjutnya menceritakan, "Ibu Ismail ketika itu masih berada
di sumber air tersebut. Maka mereka pun bertanya kepadanya, 'Apakah engkau mengizinkan
kami untuk singgah di sini?’ ’Ya, tetapi kalian tidak berhak atas air ini,’
jawab ibu Ismail. Mereka pun menyahut, ’Baiklah.’
Kemudian,
lanjut Ibnu Abbas, Nabi s.a.w. pun bersabda, "Maka ibu Ismail menerima hal
itu, kerana ia memerlukan teman." Mereka pun singgah di sana dan
mengirimkan utusan kepada keluarga mereka agar ikut datang dan menetap di sana
bersama mereka hingga berdirilah beberapa rumah. Akhirnya sang bayi (Ismail)
pun tumbuh besar dan belajar bahasa Arab dari mereka, serta menjadi orang yang
paling dihargai dan dikagumi ketika menginjak usia remaja. Setelah dewasa
mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka.
Setelah
itu ibu Ismail meninggal dunia. Setelah Ismail menikah, Ibrahim datang untuk
mencari yang dulu ditinggalkannya, tetapi ia tidak menemukan Ismail di sana.
Lalu Ibrahim menanyakan keberadaan Ismail kepada isterinya (menantu Ibrahim).
isteri Ismail menjawab, "Ia sedang pergi mencari nafkah untuk kami."
Kemudian
Ibrahim menanyakan perihal kehidupan dan keadaan mereka, maka isterinya
menjawab, "Kami berada dalam keadaan yang buruk. Kami hidup dalam
kesusahan dan kesulitan." Ia mengeluh kepada Ibrahim. Ibrahim pun
berpesan, "Jika suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya dan katakan
kepadanya agar mengubah palang pintunya." Ketika Ismail datang,
seolah-olah ia merasakan sesuatu,
kemudian ia bertanya, "Apakah ada orang yang datang mengunjungimu?"
"Ya, kami didatangi seorang yang sudah tua, begini dan begitu, lalu ia
menanyakan kepada kami mengenai dirimu, dan aku memberitahukannya. Selain itu,
ia pun menanyakan ihwal kehidupan kita di sini, maka aku pun menjawab bahawa
kita hidup dalam kesulitan dan kesusahan," jawab isterinya. "Apakah
ia berpesan sesuatu kepadamu?" tanya Ismail isterinya menjawab, "Ia
menitipkan salam kepadaku untuk aku sampaikan kepadamu dan menyuruhmu agar
mengubah palang pintu rumahmu." Ismail pun berujar, "Ia adalah
ayahku. Ia menyuruhku untuk menceraikanmu. kerananya, kembalilah engkau kepada
keluargamu."
Maka
Ismail menceraikannya, lalu mengawini wanita lain dari Bani Jurhum. Ibrahim
tidak mengunjungi mereka selama beberapa waktu. Setelah itu Ibrahim
mendatanginya, namun ia tidak juga mendapatinya. Kemudian ia menemui isterinya
dan menanyakan perihal keadaan Ismail. Maka isterinya menjawab, "Ia sedang
pergi mencari nafkah untuk kami." "Bagaimana keadaan dan kehidupan
kalian?" tanya Ibrahim. isteri Ismail menjawab, "Kami baik-baik saja
dan berkecukupan." Seraya memuji (bersyukur kepada) Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kemudian Ibrahim bertanya, "Apa yang kalian makan?" isteri Ismail
menjawab, "Kami memakan daging." "Apa yang kalian minum?"
lanjut Ibrahim. isteri Ismail menjawab, "Air." Kemudian Ibrahim
berdoa, "Ya Allah, berkatilah mereka pada daging dan air."
Selanjutnya
Nabi s.a.w. bersabda," Pada saat itu mereka belum mempunyai makanan berupa
biji-bijian. Seandainya mereka memilikinya, nescaya Ibrahim akan mendoakannya
supaya mereka diberikan berkah pada biji-bijian itu." Lebih lanjut Ibnu
Abbas berkata, "di luar Makkah, kedua jenis itu (daging dan air) bisa
didapatkan dengan mudah, hanya saja keduanya tidak sesuai (sebagai makanan
pokok)." Ibrahim berpesan, "Jika suamimu datang, sampaikan salamku
kepadanya dan suruh ia untuk memperkukuh palang pintunya." Ketika datang,
Ismail bertanya, "Apakah ada orang yang datang mengunjungimu?"
isterinya menjawab "Ya, ada orang tua yang berpenampilan sangat
bagus–seraya memuji Ibrahim- dan ia menanyakan kepadaku perihal dirimu, lalu
kuberitahukan. Setelah itu ia menanyakan perihal kehidupan kita, maka aku menjawab
bahawa kita baik-baik saja." "Apakah ia berpesan sesuatu hal
kepadamu?" tanya Ismail. isterinya menjawab, "Ya, ia menyampaikan
salam kepadamu dan menyuruhmu agar memperkukuh palang pintumu." Lalu
Ismail berkata, "Ia adalah ayahku. Engkaulah palang pintu yang dimaksud.
Ia menyuruhku untuk tetap hidup rukun bersamamu."
Kemudian
Ibrahim meninggalkan mereka selama beberapa waktu. Setelah itu ia datang
kembali, ketika itu Ismail tengah meraut anak panah di bawah pohon besar dekat
sumur Zamzam. Ketika melihatnya, Ismail bangkit. Keduanya melakukan apa yang
biasa dilakukan oleh anak dengan ayahnya dan ayah dengan anaknya jika bertemu.
Ibrahim berkata, "Wahai Ismail, sesungguhnya Allah memerintahkan sesuatu
kepadaku." "Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan Tuhanmu
itu," sahut Ismail.
Ibrahim
pun bertanya, "Apakah engkau akan membantuku?" "Aku pasti akan
membantumu," jawab Ismail. Ibrahim bertutur, "Sesungguhnya Allah
menyuruhku untuk membangun sebuah rumah di sini." Seraya menunjuk ke anak
bukit kecil yang letaknya lebih tinggi dari sekelilingnya.
Ibnu
Abbas pun melanjutkan ceritanya bahawa pada saat itulah keduanya meninggikan
pondasi Baitullah. Ismail mengangkat batu, sedang Ibrahim memasangnya. Ketika
bangunan itu sudah tinggi, dia meletakkan sebongkah batu untuk dijadikan
pijakannya. Ibrahim berdiri di atasnya sambil memasang batu, sementara Ismail
menikam batu-batu kepadanya. Keduanya pun berdoa, "Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya
Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah:
127)
Ibnu
Abbas meneruskan, bahawa keduanya terus membangun hingga menyelesaikan seluruh
bangunan Baitullah. Keduanya berdoa, "Ya
Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 127)
Dalam
riwayat lain dalam Shahih dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata,
"Ketika terjadi apa yang terjadi antara Ibrahim dan keluarganya, Ibrahim
membawa pergi Ismail dan ibunya dan mereka membawa kantong air. Ibu Ismail
minum air dari kantong itu dan menyusui anaknya, sampai Ibrahim tiba di Makkah.
Lalu Ibrahim meletakkannya di bawah rindang pohon besar. Ibrahim pun
meninggalkannya untuk pulang kepada keluarganya
.
Ibu
Ismail menguntitnya. Sesampainya di Keda', ibu Ismail memanggilnya, "Wahai
Ibrahim, kepada siapa kamu meninggalkan kami?" Ibrahim menjawab,
"Kepada Allah." Ibu Ismail menjawab, "Aku rela dengan
Allah."
Ibnu
Abbas meneruskan, "Lalu ibu Ismail kembali, meminum air itu dan menyusui
anaknya. Manakala air telah habis, dia berkata, 'Sebaiknya aku pergi memeriksa
sekeliling, mungkin ada orang lain di sekitar sini." Lalu ibu Ismail
pergi. Dia naik ke bukit Shafa. Dia melihat-lihat apakah ada seseorang. Tetapi
tak seorang pun yang dilihatnya. (Lalu dia turun) ketika sampai di lembah, dia
berlari-lari kecil. Dia mendatangi Marwah. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh
kali putaran.
Kemudian
ibu Ismail berkata, ’Sebaiknya aku kembali menengok anakku, apa yang
dilakukannya?’ Ibu Ismail pulang menengok putranya, ternyata putranya masih
dalam keadaan seperti semula. Dia mengerang-erang hampir mati kehausan, maka
ibu Ismail tidak tenang kerananya. Ibu Ismail berkata, ’Sebaiknya aku pergi
melihat-lihat mungkin ada seseorang.’ Lalu dia pergi dan naik ke bukit Shafa,
dia melihat dan melihat, tetapi tidak seorang pun yang dilihatnya sampai dia
menggenapkan menjadi tujuh kali (putaran). Kemudian ibu Ismail berkata,
’Sebaiknya aku kembali untuk melihat apa yang terjadi dengan anakku.’ Ternyata
dia mendengar suara, dia berkata, ’Bantulah aku jika kamu membawa kebaikan.’
Ternyata dia adalah Jibril. Ibnu Abbas berkata, "Lalu Jibril
mengisyaratkan dengan tumitnya begini. Dia menjejak bumi dengan tumitnya. Maka
air memancar. Ibu Ismail terkagum-kagum, lalu dia menciduki air itu."
Ibnu
Abbas berkata bahawa Abul Qasim berkata," Seandainya dia membiarkannya,
nescaya air itu akan mengalir." Ibnu Abbas meneruskan, "Lalu ibu
Ismail minum air itu dan menyusui anaknya." Lanjut Ibnu Abbas, "Lalu
sekelompok orang dari Jurhum melewati dasar lembah. Mereka melihat burung.
Mereka terheran-heran seraya berkata, 'Burung itu pasti terbang di atas air.’
Mereka pun mengutus seorang utusan. Utusan itu melihat dan ternyata ada air.
Lalu dia kembali dan menyampaikan hal itu kepada mereka.
Maka
mereka mendatanginya. Mereka bertanya, "Wahai Ibu Ismail, apakah engkau
berkenan jika kami menyertaimu atau tinggal bersamamu?" Ismail beranjak
dewasa dan menikah dengan seorang wanita dari mereka. Ibnu Abbas meneruskan,
"Ibrahim ingin berkunjung. Dia berkata kepada keluarganya, 'Aku akan
menengok anakku.’ Ibrahim datang, dia memberi salam dan berkata, ’Di mana
Ismail?’ isterinya menjawab, ’Pergi berburu.’ Ibrahim berkata, ’Jika dia pulang
katakan kepadanya agar mengubah palang pintunya.’ Ketika Ismail datang,
isterinya menyampaikan perihal kejadian yang baru dialaminya. Lalu Ismail
berkata, "Kamulah orang yang dimaksud. Pulanglah kamu kepada keluargamu."
Kemudian
Ibrahim ingin berkunjung lagi. Dia berkata kepada keluarganya, ’Aku akan
menengok anakku.’ Ibrahim pun datang dan bertanya, ’Di mana Ismail?’ isterinya
menjawab, ’Pergi berburu.’ isterinya melanjutkan, ’Singgahlah untuk makan dan
minum.’
Ibrahim
bertanya, ’Apakah makanan dan minuman kalian?’ isteri Ismail menjawab, ’Makanan
kami adalah daging dan minuman kami adalah air.’ Ibrahim berkata, ’Ya Allah,
berkahilah mereka pada makanan dan minuman mereka.’ Ibnu Abbas berkata bahawa
Abul Qasim s.a.w. bersabda," Keberkahan dengan doa Ibrahim a.s."
Ibnu
Abbas melanjutkan, "Kemudian Ibrahim ingin berkunjung lagi. Dia berkata
kepada keluarganya, 'Aku hendak menengok anakku.’ Ibrahim datang pada saat
Ismail sedang meraut anak panah di belakang Zamzam.
Ibrahim
berkata, ’Wahai Ismail, sesungguhnya Tuhanmu memerintahkan kepadaku agar aku
membangun rumah untuk-Nya.’ Ismail menjawab, ’Taatilah perintah Tuhanmu.’
Ibrahim berkata, ’Dia telah memerintahkan ku agar kamu membantuku.’ Ismail
menjawab, ’Kalau begitu akan aku lakukan.’ Atau sebagaimana yang dia katakan.
Ibnu
Abbas berkata, "Lalu keduanya
berdiri. Ibrahim membangun sementara Ismail menikam batu kepadanya, dan
keduanya berkata, ' Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami).
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. " (QS.
Al-Baqarah: 127)
Ucapan
Ibnu Abbas di dalam hadis ini menunjukkan bahawa dia mengangkatnya
(menisbatkannya) kepada Rasulullah s.a.w. Kalaupun Ibnu Abbas tidak mendengar
dari Rasulullah s.a.w. secara langsung, itu berarti dia mendengar dari sahabat
lain. Maka hadis ini termasuk mursal sahabi (hadis yang diriwayatkan oleh sahabat
yang tidak dia saksikan atau dengar sendiri dari Rasulullah s.a.w.). Para ulama telah sepakat
bahawa mursal sahabi tetap sah bila dijadikan sebagai dalil.
PENJELASAN
HADIS
Di
dalam hadis ini Rasulullah s.a.w. menyampaikan kepada kita tentang kisah bapak
kita, Ismail, dan ibunya, Hajar, yang tinggal di tanah suci Makkah. Keduanya
adalah orang pertama yang tinggal di sana. Tempat keduanya tinggal adalah
belahan bumi tersuci di muka bumi ini, yang terdapat Baitul Haram. Di sanalah
kaum muslimin berhaji. Di sanalah mereka menghadap dalam solat. Di sanalah
wahyu turun kepada Ismail dan orang setelahnya, iaitu Rasul termulia Muhammad
s.a.w.
.
Penyebab
keluarnya Hajar dari Palestina ke Makkah adalah persoalan yang terjadi antara
Hajar dan Sarah setelah Hajar melahirkan Ismail. Hajar terpaksa menjauh dari
Sarah manakala dirinya tidak merasa aman di sisinya, sebagaimana hal itu
diisyaratkan oleh hadis. Rasulullah s.a.w. Menyampaikan kepada kita bahawa
dalam kepergiannya Hajar menyeret bajunya di belakangnya untuk menghapus jejak
kakinya agar Sarah tidak mengetahui ke mana dia pergi.
Dan
Allah memerintahkan Ibrahim agar memindahkan Hajar dan putranya ke Baitullah,
tempat jauh yang tidak boleh dijangkau oleh kendaraan kecuali dengan kelelahan
jiwa. Ini adalah perkara yang mungkin sulit dan berat bagi Ibrahim yang sudah
tua, yang diberi anak Ismail dalam usia lanjut. Perkaranya bertambah sulit
manakala Ibrahim meletakkan belahan jiwanya dan ibunya di tempat yang sepi
tanpa air, tanpa makanan dan tanpa penduduk. Akan tetapi Allah memiliki hikmah
yang mendalam. Walaupun secara lahir perkara itu sulit dan berat, akan tetapi
ia banyak memuat rahmat dan kebaikan. Dan kita melihat rahmat dan kebaikan ini
pada hari ini secara jelas dan gamblang. Dengan didiami oleh Ismail, daerah itu
tumbuh menjadi sebuah kota tempat dibangunnya Baitullah yang banyak
direalisasikan ibadah-ibadah, syiar-syiar dan segala kebaikan. Dengannya
Ibrahim dan Ismail memperoleh pahala dan balasan yang tidak diketahui kecuali
oleh Allah. Itu adalah kurnia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang
dikehendaki-Nya, dan Allah adalah Pemilik kurnia yang besar.
Ibrahim
membawa anak kecil, Ismail, dan ibunya dari tanah yang penuh berkah dengan
udaranya yang sejuk, kebunnya yang hijau, airnya yang mengalir ke lembah itu,
dan kemudian meletakkan keduanya di bawah pohon. Lalu dia meninggalkannya tanpa
berpikir untuk membangunkan rumah sebagai tempat berlindung keduanya. Dia juga
tidak mencarikan orang-orang yang bersedia tinggal di sisinya untuk
melindunginya dari ancaman para begal atau serangan binatang buas. Allah telah
memerintahkan Ibrahim agar meninggalkan keduanya di lembah itu, maka dia pun
melakukan seperti yang Allah perintahkan kepadanya. Dia menyerahkan keduanya
kepada Allah, kerana Dialah yang memerintahkannya untuk melakukan itu.
Tentunya, Dia mampu melindungi keduanya, memberi makan dan minum kepada
keduanya, serta menghibur keterasingan sepertinya dia ingin agar bisa mendengar
sejauh mungkin. Ternyata suara itu terdengar oleh telinganya untuk kedua
kalinya. Dia berkata kepada sumber suara itu, "Aku telah mendengar
suaramu, jika kamu berkenan untuk menolong." Dia meneliti sumber suara
itu. Dia melihat, ternyata suara itu berasal dari putranya.
Ternyata
Malaikat Allah, Jibril, sedang memukulkan tumitnya atau sayapnya ke tanah di
tempat Zamzam. Air pun memancar. Ibu Ismail telah mencari air dari atas
bukit-bukit yang tinggi, lalu Allah mengeluarkan air untuknya dari bawah kaki
putranya yang masih bayi. Tentu kebahagiaan ibu Ismail sangatlah besar sekali.
Tidak ada air, itu berarti kematian untuknya dan putranya. Memancarnya air
adalah kehidupannya dan kehidupan putranya beserta kehidupan lembah di mana dia
tinggal. Menurut pengamatanku, Jibril menjelma dalam bentuk seorang lelaki,
sehingga Hajar melihatnya dan berbicara kepadanya dan dia pun berbicara kepada
Hajar. Sebagaimana Jibril juga pernah menjelma menjadi seorang lelaki pada masa
Rasulullah s.a.w. dan dilihat oleh para sahabat, dan mereka pun mendengarkan
ucapannya. Hal ini berdasarkan kepada bukti bahawa Rasulullah s.a.w. tidak
pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya seperti yang diciptakan oleh Allah
kecuali dua kali. Pada kali pertama Rasulullah s.a.w. sangat ketakutan.
Ibu
Ismail, kerana didorong oleh insting untuk mengumpulkan air dan menjaga
persediaannya sebanyak mungkin, maka dia membendung air itu hingga dia bisa
mengisi kantong airnya. Seandainya dia membiarkannya mengalir dan berjalan,
nescaya ia akan menjadi mata air yang mengalir. Tentang hal ini Rasulullah
s.a.w. bersabda, "Semoga Allah memberi rahmat kepada ibu Ismail.
Seandainya dia membiarkan Zamzam” –atau beliau bersabda, "Tidak menciduk
air-”nescaya zamzam menjadi mata air yang mengalir."
Allah
memberikan air kepada ibu Ismail untuk menghapus dahaganya, dan air susunya
kembali menetes. Dia pun bisa menyusui putranya. Malaikat menenangkannya,
"Jangan takut terlantar." Malaikat menyampaikan berita gembira
kepadanya, bahawa bayinya akan membangun Baitullah bersama ayahnya dan bahawa
Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya.
Allah
menyempurnakan nikmat kepada Ismail dan ibunya. Maka datanglah orang-orang ke
lembah itu untuk menetap. Ibu dan Ismail pun mulai kerasan. Keterasingan
sedikit demi sedikit mulai lenyap. Sekelompok orang dari suku Jurhum melewati
daerah di dekat mereka. Mereka singgah di Makkah bahagian bawah mereka melihat
seekor burung berputar-putar di udara. Mereka mengetahui bahawa
berputar-putarnya burung itu tidak lain kerana di daerah itu terdapat air.
kerana jika tidak ada air, maka burung itu akan terus berlalu dan tidak
berhenti. Burung yang berputar-putar di udara seperti yang mereka saksikan itu
adalah burung yang mengitari air dan mendatanginya. Hanya saja, mereka tetap
meragukan perkiraan mereka sendiri, kerana mereka mengenal betul daerah
tersebut, sebuah lembah tanpa air dan tanpa penghuni. Untuk memastikannya,
mereka mengutus seseorang dari kalangan mereka. Utusan itu kembali dengan
menyampaikan apa yang dilihatnya kepada mereka. Mereka pergi kepada ibu Ismail.
Dengan mata kepala mereka sendiri, mereka melihat air yang memancar dari
bebatuan. Mereka takjub dan meminta ibu Ismail agar mengizinkan mereka untuk
tinggal bersamanya. Ibu Ismail setuju, dengan syarat bahawa mereka tidak berhak
terhadap air. Mereka hanya boleh minum. Mata air tetap menjadi hak ibu dan
Ismail. Maka mereka mendatangkan keluarga mereka dan tinggal bersama ibu
Ismail. Ismail tumbuh dengan baik menjadi seorang pemuda di lingkungan itu.
Seorang pemuda yang giat lagi rajin diimbangi oleh akhlak mulia dan sifat-sifat
luhur.
Orang-orang
yang tinggal bersamanya menghormatinya dan mencintainya. Mereka menikahkannya
dengan gadis mereka. Ibu Ismail meninggal setelah Ismail menjadi seorang
pemuda, dan dia pun tenang kepadanya. Kematian adalah akhir kehidupan yang
hidup. Lalu Ibrahim datang menengok anaknya. Dia tidak menemukan Ismail di
rumahnya. Ismail sedang keluar mencari rezeki untuk keluarganya. isteri Ismail
mengeluhkan kehidupannya.
Manakala
Ibrahim bertanya tentangnya, dia memberitahukan bahawa mereka hidup dalam
keadaan sulit dan sengsara. Ibrahim meminta kepada isteri Ismail agar
menyampaikan salamnya kepada Ismail dan berpesan kepadanya agar dia merubah
palang pintu rumahnya. isteri Ismail tidak tahu bahawa bapak tua yang singgah
padanya adalah mertuanya. Dia juga tidak tahu jika kesannya yang disampaikan
kepada suaminya berisi perintah untuk menceraikannya. Ismail mentaati pesan
bapaknya, dan isterinya ditalaknya.
Ibrahim
melihat wanita tersebut tidak layak menjadi isteri seorang Nabi sekaligus Rasul
yang disiapkan untuk memimpin dan mengarahkan serta mendidik keluarga,
anak-anaknya dan orang-orang di sekitarnya. isteri yang memperpanjang keluhan
dan hobi merungut tidak mungkin menjadi penopang suami yang memikul tugas-tugas
besar.
Ketika
Ibrahim kembali lagi, dia bertemu dengan seorang wanita yang lain dari
sebelumnya. Ibrahim rela putranya menikah dengannya dan meminta anaknya agar
mempertahankannya. Ibrahim bertanya tentang kehidupan mereka. isteri Ismail
menjawab, "Segala puji bagi Allah, kami dalam kebaikan dan kemudahan."
Ibrahim bertanya tentang makanan dan minuman mereka. Dia menjawab, "Daging
dan air." Maka Ibrahim mendoakan keberkahan kepada mereka pada daging dan
air. Seandainya mereka mempunyai biji-bijian yang mereka makan, nescaya Ibrahim
akan mendoakannya juga sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w.
.
Rasulullah
s.a.w. menyampaikan bahawa di antara keberkahan doa Ibrahim adalah, bahawa
penduduk Makkah tetap hidup sihat walau hanya makan daging dan minum air.
Padahal, selain mereka bisa berakibat celaka jika hanya makan daging dan air
saja.
Untuk
ketiga kalinya Ibrahim datang mengunjungi anaknya dan mencari tahu tentang
beritanya. Ibrahim mendapatkannya di rumah sedang duduk meraut anak panah di
bawah pohon itu, pohon di mana dulu Ibrahim meninggalkannya dengan ibunya pada
saat mereka datang pertama kali di tempat itu. Ismail bangkit kepadanya.
Keduanya melakukan apa yang biasa dilakukan oleh ayah kepada anaknya dan anak
kepada ayahnya yang lama tidak bertemu. Mereka saling memberi salam,
berangkulan, berjabat tangan, dan lain sebagainya. Ibrahim menyampaikan
perintah Allah kepadanya, agar membangun Baitul Haram dan bahawa Dia
memerintahkan Ismail untuk membantunya. Maka Ismail bersegera melaksanakan
perintah Allah. Ibrahim membangun Baitullah dengan bantuan Ismail. Sambil
membangun keduanya berdoa, "Ya Tuhan
kami, terimalah dari kami (amal kebaikan kami). Sesungguhnya Engkau Maha
Mendengar lagi Maha mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 127)
VERSI TAURAT
8
Kisah
ini terdapat di dalam Taurat. Akan tetapi, kamu tidak akan mendapatkan
penjelasan dan perincian seperti yang ada di dalam hadis. Jika kamu membaca
kisah Taurat dengan kacamata hadis, maka kamu akan menemukan bagaimana hadis
membenarkan riwayat Taurat dan membongkar penyelewengan dan penggubahan yang
menimpa kisah ini sepanjang masa. Kisah ini tertulis dalam Ishah16 dan Ishah 21
dalam Safar Takwin.98 Taurat adalah kitab yang diturunkan kepada Musa. Ia telah
mengalami banyak penyimpangan, dan sisa-sisanya terdapat di dalam kitab yang
diberi nama Taurat di kitab-kitab lima yang pertama, yang dinamakan dengan nama
syariat. Orang-orang Yahudi yang menulisnya telah banyak melakukan penambahan
dan semuanya mereka beri nama Taurat dengan perselisihan di antara mereka, mana
yang diterima dan mana yang ditolak.
Nashnya
adalah, "Saray isteri Abram belum kunjung melahirkan anak. Dia memiliki
hamba sahaya dari Mesir bernama Hajar. Saray berkata kepada Abram, "Tuhan
belum mengizinkanku untuk melahirkan. Menikahlah dengan hamba sahayaku.
Mudah-mudahan aku mempunyai anak darinya." Abram mendengar ucapan Saray.
Maka Saray, isteri Abram, mengambil hamba sahayanya, Hajar Al-Misriyah, setelah
sepuluh tahun berlalu sejak Abram tinggal di bumi Kan'an. Saray memberikan
Hajar kepada Abram, suaminya, agar memperisterinya. Maka Abram melakukannya dan
Hajar hamil.
Manakala
Saray melihat Hajar hamil, dia merasa rendah di depan matanya. Saray berkata
kepada Abram, Kedzalimanku atasmu. Aku memberikan hamba sahayaku kepadamu.
Ketika aku melihatnya hamil, aku merasa rendah di matanya. Semoga Allah
memutuskan antara diriku dengan dirimu."
Abram
berkata kepada Saray, "Itu dia hamba sahayamu di tanganmu. Lakukanlah apa
yang menurutmu baik dimatamu." Maka Saray menghinakannya dan Hajar minggat
dari sisinya.
Malaikat
Tuhan mendapatkan Hajar di tanah lapang di sebuah mata air di jalan Syur.
Malaikat bertanya, "Wahai Hajar hamba sahaya Saray, dari mana kamu datang
dan kemana kamu pergi?" Hajar menjawab, "Aku minggat dari sisi
majikanku, Saray." Malaikat Tuhan berkata kepadanya, "Pulanglah kamu
kepada majikanmu dan tunduklah di bawah kekuasaannya."
9
Saray adalah nama Sarah sebelumnya, dan Abram adalah nama Ibrahim sebelumnya.
Taurat menyatakan bahawa pergantian kedua nama itu dengan perintah Allah.
Malaikat Tuhan berkata kepada Hajar, "Semoga keturunanmu banyak hingga
tidak terhitung." Malaikat Tuhan berkata kepadanya, "Inilah kamu yang
sekarang hamil. Kamu akan melahirkan anak lelaki. Kamu memanggil namanya
Ismail. Sesungguhnya Tuhan telah mendengar kesengsaraanmu. Anakmu akan menjadi
orang kuat. Tangannya di atas setiap orang dan tangan setiap orang di atasnya,
dan di depan seluruh saudaranya, dia tenang."
Lalu
Hajar memanggil nama Tuhan yang berbincang dengannya, "Engkau adalah il
Raay," kerana dia berkata, "Apakah di sini juga saya melihat setelah
melihat, oleh kerana itu sumurnya diberi nama sumur kaum Raay, inilah sumur itu
di antara Qadisy dan Barid." Lalu Hajar melahirkan anak lelaki Abram.
Abram memanggil anaknya yang dilahirkan oleh Hajar dengan nama Ismail.
Pada
saat Hajar melahirkan Ismail, umur Abram adalah 86 tahun. Dalam Ishah 21 dalam
Safar Takwin tertulis:
"Sarah
melihat putra Hajar Al-Misriyah sedang bergurau, Sarah berkata kepada Ibrahim,
'Usirlah wanita itu dan anaknya, kerana putra wanita hamba sahaya itu tidak
berhak atas warisan di depan anakku Ishaq." Ucapan yang sangat buruk dalam
pandangan Ibrahim kerana anaknya. Lalu Allah berfirman kepada Ibrahim,
"Jangan menjadi buruk di matamu hanya kerana anak lelaki dan hamba
sahayamu dalam segala ucapan Sarah kepadamu. Dengarkanlah ucapannya, kerana
kamu dianggap memiliki keturunan melalui Ishaq. Dan putra hamba sahayamu itu
akan Aku jadikan sebagai umat, kerana dia adalah keturunanmu."
Pada
pagi harinya Ibrahim bersiap-siap. Dia membawa roti dan kantong air lalu
memberikannya kepada Hajar dengan meletakkan keduanya di bahu Hajar yang
menggendong anak dan memerintahkannya pergi. Hajar pergi dan tersesat di
daratan sumur tujuh. Ketika air yang di kantong telah habis, Hajar meninggalkan
anaknya di bawah sebuah pohon. Hajar menjauh dan duduk membelakanginya sejauh
lemparan busur. Dia berkata, "Aku tidak mau melihat kematian anak."
Hajar duduk membelakanginya dan menangis dengan keras.
Lalu
Allah mendengar suara anaknya dan Malaikat Allah memanggil Hajar dari langit.
Dia berkata kepadanya, "Ada apa denganmu, wahai Hajar? Jangan takut,
kerana Allah telah mendengar suara anakmu seperti adanya. Bangkitlah, bawalah
anakmu, kuatkan tanganmupadanya, kerana aku akan menjadikannya umat yang
besar." Dan Allah membuka kedua mata Hajar maka dia melihat sumur air. Dia mendekatinya dan
memenuhi kantongnya dengan air dan memberi minum anaknya. Allah bersama anak
itu, hingga dia menjadi besar dan tinggal di daratan. Dia tumbuh menjadi
seorang pemanah. Dia tinggal di daratan Faran dan ibunya menikahkannya dengan
seorang wanita dari Mesir."
KOMENTAR
MENYANGKUT KISAH DALAM TAURAT
Ada
beberapa poin dalam kisah ini yang benar kerana sesuai dengan pemberitaan
Rasulullah s.a.w. dalam hadis yang kami sebutkan dan hadis-hadis lainnya. Di
antaranya, bahawa Sarah memberikan hamba sahayanya Hajar kepada Ibrahim dengan
harapan agar Ibrahim bisa memperoleh anak darinya dan Hajar hamil setelah
Ibrahim menikahinya; bahawa Hajar menjadi percaya diri ketika dia hamil,
sementara majikannya menjadi turun pamornya di matanya; bahawa Sarah marah
terhadap Hajar yang kemudian minggat dari hadapannya; bahawa Sarah meminta
Ibrahim untuk mengusir Hajar dan putranya, sehingga Ibrahim mengeluarkan Hajar
ke daratan dengan dibekali sedikit makanan dan kantong air; bahawa Hajar
bersedih ketika airnya habis; dan bahawa Malaikat Tuhan turun dan
menenangkannya serta memberitahukan tempat air kepadanya. Tidaklah benar apa
yang disebutkan dalam kisah Taurat bahawa Ibrahim memberi Hajar sekantong air
dan makanan dan memintanya membawanya, dan bahawa Hajar pergi tak tentu arah di
daratan tersebut. Yang benar adalah seperti yang tercantum di dalam hadis,
bahawa Ibrahim membawa sekantong air dan tempat bekal berisi kurma dan dia
meninggalkan Hajar beserta anaknya di sebuah lembah tandus di Baitullah Al-Haram.
Apa
yang disebutkan di dalam hadis tentang keadaan Hajar, habisnya air, sa'i Hajar
di antara Shafa dan Marwah, datangnya Jibril yang memancarkan air, dan
perincian-perincian lain tidaklah disinggung dalam Taurat. Apa yang disebutkan
dalam Taurat tidaklah secermat dan sejelas seperti dalam hadis.
Tidak
benar kalau Sarah menyuruh Ibrahim mengusir Ismail ketika dia melihatnya
bergurau, dan bahawa Sarah menolak Ismail menjadi ahli waris bersama Ishaq
anaknya. kerana, pada saat Ismail dibawa oleh bapaknya ke Makkah, ia masih
seorang bayi yang menyusu dan belum sampai pada umur yang memungkinkan untuk
bergurau. Adapun Ishaq, dia pada saat itu belum dilahirkan.
Apa
yang disebutkan dalam Taurat bahawa Ibrahim menggauli Hajar setelah sepuluh
tahun dari tinggalnya di bumi Kan'an; bahawa minggatnya Hajar dari Sarah adalah
ke mata air di jalan Syur, dan Malaikat meminta agar Hajar kembali kepada Sarah
dan patuh kepadanya; dan bahawa Ibrahim pada waktu Ismail lahir berumur 86
tahun; semua itu Allah lebih mengetahui kebenarannya.
PELAJARAN-PELAJARAN
DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
1.
Kisah ini mengandung banyak informasi
dan fakta yang tidak mungkin kita ketahui seandainya Rasulullah s.a.w. tidak
memberitahukannya kepada kita. Informasi-informasi berharga tentang nenek
moyang yang mulia, tentang tumbuhnya kota suci, tentang pembangunan Baitul
Atiq, dan lain sebagainya.
2.
Ketaatan Ibrahim kepada perintah
Allah agar membawa isteri dan anaknya ke tempat itu, walaupun perkaranya
sedemikian sulit atas dirinya. Seorang hamba bisa jadi membenci sesuatu,
sementara kebaikan tersimpan di dalamnya; dan dia bisa jadi menyukai sesuatu,
padahal itu buruk baginya.
3.
Allah menjaga dan melindungi para
walinya sebagaimana Dia telah menjaga Hajar dan Ismail manakala Ibrahim
meninggalkannya di tempat itu.
4.
Berserah diri kepada perintah Allah
tidak menafikan usaha seorang hamba dalam perkara yang mengandung kebaikannya.
Hajar mencari sesuatu yang bisa menjaga kelangsungan hidupnya dan hidup
putranya, walaupun dia berserah diri kepada perintah Allah.
5.
Kemampuan Allah mengeluarkan air dari
batu yang tuli, seperti Dia mengeluarkan air Zamzam.
6.
Perhatian dan nasihat bapak kepada
anak tentang sesuatu yang menurutnya baik bagi anaknya. Ibrahim selalu
mengunjungi anaknya untuk mengetahui keadaan dan keadaannya dan mengarahkan
kepada sesuatu yang baik baginya.
7.
Merungut kerana minimnya rezeki dan sulitnya
hidup bukan termasuk akhlak orang-orang soleh. Ibrahim membenci sifat merungut
dari isteri Ismail akan beratnya kehidupannya bersama Ismail. Sebaliknya, sabar
atas minimnya bekal dan sikap syukur atas nikmat Allah termasuk akhlak
orang-orang soleh. Oleh kerana itu, Ibrahim memuji isteri Ismail yang ridha dan
bersyukur.
8.
Doa orang soleh agar makanan dan
minuman menjadi berkah, sebagaimana Ibrahim mendoakan daging dan air bagi
penduduk Makkah agar menjadi berkah.
9.
Menampakkan perasaan bahagia dan
senang pada waktu bertemu orang yang dicintai. Mengungkapkannya dengan sikap
seperti yang dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail ketika keduanya bertemu.
10.
Ismail adalah seorang pemanah yang
mahir dan pemburu yang ahli. Rasulullah s.a.w. bersabda kepada
sahabat-sahabatnya, "Wahai Bani Ismail, panahlah kerana bapak kalian
adalah seorang pemanah."
11.
Saling tolong menolong di antara anggota keluarga dalam berbuat kebaikan,
sebagaimana Ismail membantu bapaknya membangun Ka'bah.
12.
Bakti Ismail kepada bapaknya. Dia taat
kepada ayahnya untuk menceraikan isteri pertamanya dan menahan isteri keduanya.
Jika ayah yang meminta mentalak isteri dengan pertimbangan-pertimbangan
Islamiah seperti Ibrahim, maka anak tidak boleh menolak.
13. Ismail adalah bapak orang Arab Musta'ribah,
iaitu Arab Hejaz. Adapun kabilah–kabilah Himyar, iaitu Yaman, maka mereka
kembali kepada Qahthan. Orang-orang Arab sebelum Ismail dikenal dengan sebutan
orang Arab Aribah, dan mereka terdiri dari banyak kabilah. Di antara mereka
adalah Ad, Tsamud, Jurhum, Thasm, Jadis dan Qahthan. Kebanyakan dari mereka
telah binasa dan punah.
Dalam hadis shahih disebutkan bahawa
Ismail adalah orang pertama yang mengucapkan bahasa Arab dengan lisan yang
jelas ketika dia berumur empat belas tahun.
14.
pembetulan Al-Qur'an dan hadis yang
shahih terhadap kesalahan dan penyimpangan Taurat.
Diriwayatkan
oleh Bukhari di beberapa tempat dalam Shahih-nya. Lihat no. 97 dan 3371.
Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 1/120, 2/165. 12 Ibnu Hajar dalam Fathul
Bari menisbatkannya kepada Thabrani dan Dailami, dihasankan oleh Ibnu Hajar,
dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahihul Jami', no. 2581.
No comments:
Post a Comment