KISAH KEDELAPAN
KISAH MUSA DAN KHIDHIR
Kisah
Musa dengan Khidhir yang disebutkan dalam surat Al-Kahfi termasuk kisah yang
utama. Musa pergi dari kotanya untuk mencari ilmu ketika Tuhannya
memberitahukan kepadanya bahawa di bumi ini terdapat seseorang yang lebih alim
darinya. Dalam Sunnah Nabi terdapat tambahan keterangan dari apa yang
disebutkan oleh Al-Qur'an. Rasulullah s.a.w. menyampaikan kepada kita sebab
perginya Musa dari kotanya, sebagaimana beliau menyampaikan kepada kita tentang
nama hamba soleh yang dicari-cari Musa, dan sebahagian dari ucapannya dan
keadaannya.
NASH HADIS
Imam
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih keduanya, dari Said bin Jubair. Ia
bercerita, ”Aku pernah mengatakan kepada Ibnu Abbas, bahawa Nauf Al-Bikali
mengatakan bahawa Musa, sahabat Khidhir tersebut, bukanlah Musa dari sahabat
Bani Israil. Maka Ibnu Abbas pun berkata, "Musuh Allah itu telah
berdusta." Ubay bin Kaab pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda,
"Sesungguhnya Musa pernah berdiri memberikan ceramah kepada Bani Israil,
lalu ia ditanya, 'Siapakah orang yang paling banyak ilmunya?’ Ia menjawab,
’Aku.’ Maka Allah mencelanya, kerana ia tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya.
Lalu Allah mewahyukan kepadanya, ’Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba yang
berada di tempat pertemuan dua laut, yang ia lebih berilmu daripada dirimu.’
Musa berkata, ’Ya Tuhanku, bagaimana bisa aku menemuinya?’ Dia berfirman,
’Pergilah dengan membawa seekor ikan, dan letakkanlah ia di dalam keranjang. Di
mana ikan itu hilang, maka di situlah Khidhir itu berada.’ Maka Musa mengambil
seekor ikan dan meletakkannya di dalam keranjang. Lalu dia pergi bersama
seorang pemuda bernama Yusya' bin Nun. Ketika keduanya mendatangi batu karang,
keduanya merebahkan kepala mereka dan tertidur. Ikan itu menggelepar di dalam
keranjang, hingga keluar darinya dan jatuh ke laut."
Kemudian
ikan itu mengambil jalannya ke laut." (QS. Al-Kahfi: 61). Allah Subhanahu
wa Ta’ala menahan jalannya air dari ikan itu, maka jadilah air itu seperti
lingkaran. Kemudian sahabat Musa (Yusya') terbangun dan lupa memberitahukan
kepada Musa tentang ikan itu. Mereka terus berjalan menempuh perjalanan siang
dan malam. Pada keesokan harinya, Musa berkata kepada pemuda itu, "Bawalah kemari makanan kita,
sesungguhnya kita telah merasa letih kerana perjalanan kita ini." (QS.
Al-Kahfi: 62).
Rasulullah
s.a.w. menyebutkan bahawa Musa tidak merasa kelelahan sehingga ia berhasil
mencapai tempat yang ditunjukkan oleh Allah Taala. Maka sahabatnya itu berkata,
"Tahukah engkau, ketika kita mencari
tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku telah lupa (menceritakan
tentang) ikan itu dan tidak ada yang menjadikanku lupa untuk menceritakannya
kecuali syaitan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh
sekali." (QS. Al-Kahfi: 63).
Beliau
berkata, "Ikan itu memperoleh jalan keluar, tetapi bagi Musa dan
sahabatnya, yang demikian itu merupakan kejadian yang luar biasa." Maka
Musa berkata kepadanya, "Itulah
tempat yang kita cari.' Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka
semula." (QS. Al-Kahfi:64)
Lebih
lanjut, Rasulullah s.a.w. menceritakan, "Kemudian mereka berdua kembali
lagi mengikuti jejak mereka semula hingga akhirnya sampai ke batu karang.
Tiba-tiba ia mendapati seseorang yang mengenakan pakaian rapi. Musa mengucapkan
salam kepadanya." Khidhir pun berkata, "Sesungguhnya aku mendapatkan
kedamaian di negerimu ini." "Aku Musa," paparnya. Khidhir
bertanya, "Musa pemimpin Bani Israil?"
Musa
menjawab, "Ya. Aku datang kepadamu supaya engkau mengajarkan kepadaku apa
yang engkau ketahui." "Khidhir menjawab, 'Sesungguhnya kamu
sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku (QS. Al-Kahfi: 67)
.
Hai Musa, aku
mempunyai ilmu yang diberikan dari ilmu Allah. Dia mengajariku hal-hal yang
tidak engkau ketahui. Dan engkau pun mempunyai ilmu Allah yang Dia ajarkan
kepadamu yang tidak kumiliki.”
Maka
Musa berkata, "Insya Allah engkau
akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu
dalam suatu urusan pun" (QS. Al-Kahfi:69).”
Maka
Khidhir berkata kepada Musa, "Janganlah
kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri yang
menjelaskannya kepadamu." (QS. Al-Kahfi: 70)
Maka
berjalanlah keduanya. Mereka berjalan menelusuri pantai, hingga akhirnya sebuah
perahu melintasi keduanya. Lalu keduanya meminta agar pemiliknya mau
mengantarnya. Mereka mengetahui bahawa orang itu adalah Khidhir. Mereka pun
membawa keduanya tanpa upah. Ketika keduanya menaiki perahu itu, Musa merasa
terkejut kerana Khidhir melubangi perahu tersebut dengan kapak. Musa pun
berkata, "Orang-orang itu telah
membawa kita tanpa upah, tetapi engkau malah melubangi perahu mereka,
"Mengapa engkau melubangi perahu itu yang akibatnya engkau menenggelamkan
penumpangnya? Sesungguhnya engkau telah melakukan suatu kesalahan yang
besar." (QS. Al-Kahfi: 71) "
Khidhir
berkata, 'Bukankah aku telah berkata,
sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku." (QS.
Al-Kahfi: 72). "
Musa
berkata, 'Janganlah engkau menghukumku
kerana kelupaanku dan janganlah engkau membebaniku dengan sesuatu kesulitan
dalam urusanku." (QS. Al-Kahfi: 73)
Kemudian
Rasulullah s.a.w. bersabda, "Yang pertama itu dilakukan Musa kerana lupa.
Lalu ada burung hinggap di tepi perahu dan minum sekali atau dua kali patokan
ke laut. Maka Khidhir berkata kepada Musa, 'Jika ilmuku dan ilmumu dibandingkan
dengan ilmu Allah, maka ilmu kita itu tidak lain hanyalah seperti air yang
diambil oleh burung itu dengan paruhnya dari laut."
Setelah
itu keduanya keluar dari perahu. Ketika keduanya sedang berjalan di tepi laut,
Khidhir melihat seorang anak yang tengah bermain dengan anak-anak lainnya. Maka
Khidhir menjambak rambut anak itu dengan tangannya dan membunuhnya. Musa
berkata kepada Khidhir, "Mengapa
engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan kerana ia membunuh orang lain?
Sesungguhnya engkau telah melakukan sesuatu yang munkar.' Khidhir berkata,
'Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahawa sesungguhnya kamu tidak akan dapat
sabar bersamaku?" (QS. Al-Kahfi: 74-75).
Yang
kedua ini lebih parah dari yang pertama." Musa berkata, 'Jika aku bertanya
kepadamu tentang sesuatu sesudah dua kali ini, maka janganlah engkau
memperbolehkan diriku menyertaimu, sesungguhnya engkau telah cukup memberikan
udzur kepadaku." (QS. Al-Kahfi: 76). "
Maka
keduanya berjalan hingga ketika mereka sampai kepada penduduk suatu negeri,
mereka meminta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu
tidak mau menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan di negeri itu dinding
rumah yang hampir roboh." (QS. Al-Kahfi: 77) –yakni, miring. Lalu Khidhir
berdiri dan, "Khidhir menegakkan dinding itu," dengan tangannya.
Selanjutnya Musa berkata, "Kita
telah mendatangi suatu kaum tetapi mereka tidak mau menjamu kita dan tidak pula
menyambut kita, ' Jikalau engkau mau, nescaya engkau dapat mengambil upah untuk
itu." (QS. Al-Kahfi: 77)"
Khidhir
berkata, 'Inilah perpisahan antara diriku
dan dirimu, aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang
kamu tidak dapat bersabar terhadapnya." (QS. Al-Kahfi: 78)
Kemudian
Rasulullah s.a.w. bersabda, "Kami ingin Musa bisa bersabar sehingga Allah
menceritakan kepada kita tentang keduanya."
Said
bin Jubair menceritakan, Ibnu Abbas membaca: "Dan di hadapan mereka terdapat seorang raja yang merampas
tiap-tiap bahtera yang baik dengan cara yang tidak benar." (QS.
Al-Kahfi: 79).
Ia
juga membaca seperti ini, "Dan
adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah mukmin." (QS.
Al-Kahfi: 80)
Dalam
riwayat lain dalam Shahihain dari Said bin Jubair berkata, "Kami sedang
bersama Ibnu Abbas di rumahnya. Dia berkata, 'Bertanyalah kalian
kepadaku." Aku berkata, ’Wahai Ibnu Abbas, semoga Allah menjadikanku
sebagai penggantimu. Di Kufah terdapat seorang tukang cerita yang bernama Nauf.
Dia mengtuntutan bahawa dia bukan Musa Bani Israil. Adapun Amru, dia berkata
kepadaku, 'Musuh Allah telah dusta.’ Adapun Ya'la, dia berkata kepadaku, Ibnu
Abbas berkata, Ubay bin Kaab menyampaikan kepadaku, dia berkata, Rasulullah
s.a.w. bersabda, "Musa a.s., suatu hari dia menasihati kaumnya sampai
ketika air mata bercucuran dan hati menjadi lunak, dia pulang.
Seorang
lelaki menyusulnya, dia berkata kepada Musa, 'Wahai Rasulullah, apakah di bumi
ini terdapat orang yang lebih alim darimu?’ Musa menjawab, ’Tidak ada.’ Maka
Allah menyalahkan Musa yang tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Dikatakan
kepada Musa, "Ada yang lebih alim darimu." Musa bertanya, "Ya
Tuhanku, di mana?" Allah menjawab, "Di tempat bertemunya dua
laut." Musa berkata, "Ya Tuhanku, jadikanlah untukku sebuah tanda
yang bisa aku kenal." Amru berkata kepadaku bahawa Allah menjawab,
"Di tempat di mana ikan meninggalkanmu." Ya'la berkata kepadaku
bahawa Allah menjawab, "Ambillah ikan yang telah mati yang bisa ditiupkan
ruh kepadanya." Maka Musa membawa ikan dan meletakkannya di dalam
keranjang. Musa berkata kepada pelayannya, "Aku tidak membebanimu apa pun
kecuali kamu harus memberitahuku jika ikan itu lepas darimu." Pelayan
menjawab, "Bukan beban berat." Itulah firman Allah Azza wa Jalla,
" Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya." (QS. Al-Kahfi:
60). Dan murid tersebut adalah Yusya' bin Nun. Riwayat ini bukan dari Said.
Rasulullah
s.a.w. meneruskan, "Manakala Musa berteduh di bawah batu besar di tempat
Tsaryan (yang basah), tiba-tiba ikan itu berontak, sementara Musa sedang tidur.
Maka muridnya berkata, "Aku tidak akan membangunkannya." Tetapi
ketika Musa bangun, dia lupa memberitahukan kepadanya. Ikan itu berontak hingga
melompat ke laut. Allah menahan jalannya air dari ikan itu sehingga bekasnya
seolah-olah di batu." Amru berkata kepadaku bahawa bekasnya seolah-olah di
batu. Amru melingkarkan antara kedua ibu jarinya dan kedua telunjuknya."
Sesungguhnya
kita telah merasa letih kerana perjalanan kita ini ." (QS. Al-Kahfi: 62).
Dia berkata, "Allah telah menghentikan keletihan darimu." Riwayat ini
bukan dari Said. Yusya' memberitahu Musa, lalu keduanya pun kembali dan
menemukan Khidhir. Usman bin Abu Sulaiman berkata kepadaku, "Khidhir duduk
di atas permadani hijau di tengah laut." Said bin Jubair berkata,
"Berselimut kain, salah satu ujungnya di bawah kakinya dan ujung lainnya
di bawah kepalanya." Musa mengucapkan salam kepadanya. Khidhir membuka
wajahnya dan berkata, "Apakah di negerimu ada keselamatan? Siapa
kamu?" Musa menjawab, "Aku adalah Musa." Khidhir bertanya,
"Musa Bani Israil?" Musa menjawab, "Ya." Khidhir bertanya,
"Apa keperluanmu?" Musa menjawab, "Aku datang agar engkau
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu." Khidhir berkata, "Apakah kamu belum merasa cukup? Taurat
ada di tanganmu dan wahyu datang kepadamu. Wahai Musa, sesungguhnya aku
memiliki ilmu yang tidak sepatutnya kamu ketahui, dan sesungguhnya kamu
memiliki ilmu yang tidak sepatutnya aku ketahui." Lalu datanglah seekor
burung yang mengambil air laut dengan paruhnya. Khidhir berkata, "Demi
Allah, ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti apa
yang diambil burung itu dari laut dengan paruhnya."
Ketika
keduanya naik perahu dan mendapati perahu-perahu kecil yang menyeberangkan
penghuni pantai ini ke pantai itu, mereka mengenalnya. Mereka berkata, "Hamba
Allah yang soleh." Dia berkata, "Kami bertanya kepada Said,
"Khidhir?" Dia menjawab, "Ya." Mereka berkata, "Kami
tidak meminta ongkos." Maka Khidhir melubanginya dan menancapkan patok
kepadanya. Musa berkata, "Mengapa
kamu melubangi perahu itu yang berakibat para penumpangnya akan tenggelam.
Sesungguhnya kamu telah mendatangkan kesalahan besar." (QS. Al-Kahfi:
71).
Mujahid
berkata, "Kemunkaran." "Khidhir berkata, 'Bukankah kamu telah
berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali akan sabar bersama denganku. "
(QS. Al-Kahfi: 72). Yang pertama dilakukan oleh Musa kerana lupa, yang kedua
kerana syarat, dan yang ketiga adalah kesengajaan. " Musa berkata,
'Janganlah kamu menghukumku kerana kelupaanku dan janganlah kamu membebaniku
dengan kesulitan dalam urusanku." (QS. Al-Kahfi: 73)
Keduanya
bertemu dengan seorang anak, lalu Khidhir membunuhnya. Ya'la berkata, Said
berkata, "Dia mendapatkan beberapa anak sedang bermain, maka Khidhir
mengambil seorang anak yang kafir dan tampan, lalu dia membaringkannya dan
menyembelihnya dengan pisau." "Musa berkata, 'Mengapa kamu membunuh
jiwa yang bersih bukan kerana dia membunuh orang lain?" (QS. Al-Kahfi: 74)
Dia
belum melakukan ingkar sumpah. Dan Ibnu Abbas membaca زآ
dengan زاآ
yang muslim, seperti membaca مزآ ."
Lalu
keduanya berjalan, hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri,
mereka meminta dijamu oleh penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu
menolak menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan di negeri itu dinding
rumah yang hampir roboh. Khidhir pun menegakkan dinding itu." (QS.
Al-Kahfi: 77).
Said
memberi isyarat dengan tangannya begini, dia mengangkat tangannya hingga lurus.
Ya'la berkata, "Menurutku Said berkata, 'Maka dia mengusapnya dengan
tangannya dan ia pun lurus." "Musa berkata, 'Jika kamu mau, nescaya
kamu mengambil upah untuk itu." (QS. Al-Kahfi: 78)
"kerana
di hadapan mereka." (QS. Al-Kahfi: 79), yakni di depan mereka. Ibnu Abbas
membacanya, أممم. Mereka
mengtuntutan bukan dari Said, bahawa dia adalah Hudad bin Budad, dan anak yang
dibunuh – menurut mereka – bernama Jaisur."
Ada
seorang raja yang merampas setiap perahu." (QS. Al-Kahfi: 79). Maka aku
ingin jika ia melewatinya, dia tidak mengambilnya kerana cacatnya. Jika mereka
telah lewat, maka mereka bisa memperbaiki dan memanfaatkannya. Di kalangan
mereka ada yang bilang, "Sumpallah dengan botol." Ada yang bilang,
dengan aspal." Kedua orang tua anak itu adalah orang-orang mukmin"
(QS. Al-Kahfi: 80), dan anak itu adalah kafir." Dan kami kuatir dia akan
mendorong kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekufuran. " (QS.
Al-Kahfi: 80).
Yakni,
kecintaan kedua orang tuanya kepadanya membuat keduanya mengikutinya dalam
agamanya. "Dan kami menghendaki
supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik
kesuciannya dari anak itu." (QS. Al-Kahfi: 81).
Ini
sebagai jawaban atas ucapannya, "Mengapa
kamu membunuh jiwa yang bersih." (QS. Al-Kahfi: 74)
"Dan
lebih berkasih sayang kepada kedua orang tuanya." (QS.
Al-Kahfi: 81). Keduanya lebih sayang kepadanya daripada kepada anak pertama
yang dibunuh Khidhir. Selain Said menuntut bahawa keduanya diberi pengganti
anak perempuan. Adapun Daud bin Ashim, dia berkata dari beberapa orang bahawa
penggantinya adalah anak perempuan.
Dalam
riwayat ketiga, dari Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas'ud dari Ibnu
Abbas bahawa Ibnu Abbas berdebat dengan Al-Hur bin Qais bin Hish Al-Fazari
tentang sohib Musa. Ubay bin Kaab melewati keduanya, lalu Ibnu Abbas
memanggilnya dan berkata, "Aku dan temanku ini berdebat tentang sohib
Musa, di mana Musa bertanya tentang jalan untuk bertemu dengannya. Apakah kamu
mendengar Rasulullah s.a.w. menyinggungnya?"
Ubay
menjawab, "Ya, aku telah mendengar Nabi menyinggungnya. Beliau bersabda,
'Ketika Musa sedang bersama pembesar-pembesar Bani Israil, dia didatangi oleh
seorang lelaki. Dia berkata, 'Apakah kamu mengetahui seseorang yang lebih tahu
darimu?’ Musa menjawab, ’Tidak.’ Maka Allah mewahyukan kepada Musa, ’Ada, iaitu
hamba Kami bernama Khidhir.’ Maka Musa bertanya bagaimana menemuinya. Allah
memberinya satu tanda, iaitu seekor ikan. Dikatakan kepada Musa, ’Jika kamu
kehilangan ikan, maka kembalilah, kerana kamu akan menemuinya.’ Musa pun
menelusuri jejak ikan di laut. Pelayan Musa berkata kepadanya, 'Tahukah kami ketika kita mencari tempat
berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan
itu dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali syaitan."
(QS. Al-Kahfi: 63). "
Musa
menjawab, 'Itulah tempat yang kita cari.
Lalu keduanya kembali mencari jejak mereka semula." (QS. Al-Kahfi:
64). Keduanya bertemu Khidhir dan apa yang terjadi pada keduanya telah
diceritakan Allah dalam Kitab-Nya. Ketiga hadis di atas adalah riwayat Bukhari.
PENJELASAN
HADIS
Suatu
hari Musa berpidato di hadapan Bani Israil. Musa menyampaikan nasihat yang
melunakkan hati dan membuat air mata bercucuran. Begitulah para Nabi manakala
mereka memberi nasihat. Nasihat mereka melunakkan hati yang keras dan melecut
jiwa yang malas. Hal itu kerana hati dan jiwa mereka dipenuhi dengan rasa takut
dan cinta kepada Allah. Mereka diberi kemampuan untuk menjelaskan dan dikurniai
banyak ilmu. Banyak orang ketika mendengar orasi para orator ulung
terkagum-kagum, mereka dengan apa yang mereka dengar. Terlebih jika mereka
adalah Nabi-Nabi Allah
.
Setelah
Musa menyelesaikan khutbahnya, dia diikuti Oleh seorang lelaki yang
meninggalkan tempat perkumpulan. lelaki ini bertanya kepada Musa, "Apakah
di bumi ini terdapat orang yang lebih alim darimu?" Musa menjawab,
"Tidak." Musa adalah salah seorang Rasul yang agung. Dia termasuk
dari lima Rasul Ulul Azmi. Musa menempati di urutan ketiga di antara para Nabi
dan Rasul. Ibrahim berada di urutan kedua dan Muhammad di urutan pertama. Musa
adalah Kalimullah (Nabi yang berbincang dengan Allah). Allah memberinya Taurat
yang berisi cahaya dan petunjuk. Allah mengajarkannya banyak ilmu. Akan tetapi,
berapa pun tingginya ilmu seorang hamba, dia tetap harus bertawadhu kepada
Tuhannya.
Jika
dia ditanya dengan pertanyaan seperti itu, semestinya dia menjawab,
"Wallahu a'lam." Seberapa pun ilmu yang dimiliki oleh seseorang
tetaplah sedikit dibandingkan dengan ilmu Allah. perkara ikan tersebut kepada
Musa. Ikan itu telah lompat pada saat keduanya beristirahat di batu barulah
kemarin. Perjalanan keduanya cukup mudah. Keduanya melewati tempat yang
ditentukan, hingga kelelahan.
Musa
dan temannya berjalan berbalik menyusuri jejak semula yang telah mereka lalui,
demi menuju ke batu tempat mereka beristirahat. lelaki yang dicari oleh Musa
berada di sana di tempat di mana ikan itu lepas. Sampailah keduanya di batu
itu. Keduanya mendapati seorang hamba soleh sedang berbaring di atas tanah yang
hijau tertutup oleh kain, ujungnya di bawah kakinya dan ujung lainnya di bawah
kepalanya.
Musa
langsung memberi salam, "Assalamu'alaikum." Sepertinya daerah itu
adalah daerah kafir. Oleh kerananya, hamba soleh tersebut merasa sangat aneh
mendengar salam di daerah itu. Dia menjawab, "Dari mana salam di
bumiku." Kemudian hamba soleh itu bertanya siapa Musa. Musa memperkenalkan
diri sekaligus menyampaikan maksud kedatangannya. Dia datang untuk menyertainya
dan belajar ilmu yang berguna darinya. Hamba soleh itu berkata mengingkari
perjalanan Musa kepada dirinya, "Apa kamu tidak merasa cukup dengan apa
yang ada dalam Taurat dan kamu diberi wahyu?"
Kemudian
hamba soleh itu menyampaikan bahawa ilmu mereka berdua berbeza, walaupun sumber
keduanya adalah satu. Hanya saja, masing-masing mempunyai ilmu yang berbeza
yang Allah khususkan untuknya. "Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu
yang Allah ajarkan kepadaku yang tidak kamu ketahui. Kamu juga mempunyai ilmu
yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak Allah ajarkan kepadaku."
Musa
meminta agar diizinkan untuk menyertainya dan mengikutinya. Dia menjawab,
"Kamu tidak akan boleh bersabar bersamaku." Musa pun berjanji akan
sabar dengan izin dan kehendak Allah. Hamba soleh itu mensyaratkan atas Musa
agar tidak bertanya tentang sesuatu sampai dia sendiri yang menjelaskan dan
menerangkannya.
Musa
dan Khidhir berjalan di pantai. Keduanya hendak menyeberang ke pantai yang
lain, dan mendapatkan perahu kecil yang akan menyeberangkan para penumpang di
antara kedua pantai. Orang-orang mengenal hamba soleh itu, maka mereka
menyeberangkannya sekaligus Musa ke pantai seberang secara gratis.
Musa
dan Khidhir melihat seekor burung yang hinggap dipinggir perahu. Burung itu
mematok air dari laut sekali, maka hamba soleh berkata kepada Musa, "Demi
Allah, ilmumu dan ilmuku dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti yang
dipatokkan burung itu dengan paruhnya dari air laut." Ketika keduanya
berada di atas perahu, Musa dikejutkan oleh Khidhir yang mencopot sebuah papan
kayu dari perahu itu dan menancapkan patok padanya. Musa lupa akan janjinya, dengan
cepat dia mengingkari.
kerosakan
di bumi adalah kejahatan, yang lebih jahat jika dilakukan kepada orang yang
memiliki jasa kepadanya, "Mengapa
kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?
Sesungguhnya kamu telah berbuat suatu kesalahan besar." (QS. Al-Kahfi:
71).
Di
sini hamba soleh itu mengingatkan Musa akan janjinya, "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak
akan sabar bersama denganku." (QS. Al-Kahfi: 72).
Pertanyaan
Musa yang pertama ini dikeranakan dia lupa, sebagaimana hal itu dijelaskan oleh
Rasulullah. Musa dan Khidhir terus berjalan. Musa dikejutkan oleh Khidhir yang
menangkap anak kecil yang sihat dan lincah. Khidhir menidurkannya dan
menyembelihnya, memenggal kepalanya. Di sini Musa tidak sanggup untuk bersabar
terhadap apa yang dilihatnya. Dengan tangkas dia mengingkari, sementara dia
menyedari janji yang diputuskannya. "
Mengapa
kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan kerana dia membunuh orang lain?
Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang munkar. " (QS. Al-Kahfi:
74)
Pengingkaran
Musa dijawab oleh hamba soleh itu dengan pengingkaran, "Bukankah sudah aku katakan bahawa sesungguhnya kamu tidak akan
dapat bersabar bersamaku?" (QS. Al-Kahfi: 75)
Di
sini Musa berhadapan dengan kenyataan yang sebenarnya, bahawa dia tidak mampu
berjalan menyertai lelaki ini lebih lama lagi. Musa tidak kuasa melihat
perbuatan seperti ini dan diam. Hal ini kembali kepada dua perkara.
Pertama,
tabiat Musa. Musa dengan jiwa kepemimpinan yang dimilikinya sudah terbiasa
menimbang segala sesuatu yang dilihatnya. Dia tidak terbiasa diam jika
menyaksikan sesuatu yang tidak diridhainya.
Dan
kedua, dalam syariat Musa, pembunuhan seorang anak adalah sesuatu kejahatan.
Bagaimana mungkin Musa tidak mengingkarinya, siapa pun pelakunya. Dalam hal ini
Musa mengakui kepada hamba soleh tersebut. Musa memohon kesempatan yang ketiga
dan yang terakhir. Jika sesudahnya Musa bertanya, maka dia berhak untuk
meninggalkannya.
Keduanya
lantas berjalan, hingga tibalah di sebuah desa yang penduduknya kedekut. Musa
dan Khidhir meminta kepada mereka hak tamu. Mereka berdua hanya mendapatkan
penolakan dari mereka. Walaupun demikian, Khidhir memperbaiki tembok di desa
itu yang miring dan hampir roboh. Ini perkara yang aneh. Mereka menolak
menerima keduanya sebagai tamu, tapi hamba soleh ini memperbaiki tembok mereka
dengan gratis.
Di
sini Musa memilih berpisah. Hal ini ditunjukkan oleh pertanyaan Musa kepada
hamba soleh tentang alasan dia memperbaiki tembok secara gratis, padahal tembok
itu dimiliki oleh kaum yang menolak mereka. Seandainya Musa bersabar menyertai
hamba soleh ini, nescaya kita bisa mengetahui banyak keajaiban dan keunikan
yang terjadi padanya. Akan tetapi Musa memilih berpisah setelah hamba soleh ini
menerangkan tafsir dari perbuatannya dan rahsia yang terkandung dari perilaku
yang dilakukannya. Dan perkara ini tercantum dalam surat Al-Kahfi.
PELAJARAN-PELAJARAN
DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
1.
Dialog dan berbincang dalam urusan
ilmu. Ibnu Abbas berbeza pendapat dengan Hur bin Qais tentang nama lelaki yang
dituju oleh Musa. Apakah dia Khidhir atau bukan, dan keduanya mencari ilmu
kepada orang yang memiliki ilmu. Maka Ubay bin Kaab meriwayatkan untuk keduanya
dari Rasulullah tentang hadis tersebut yang menunjukkan kebenaran pendapat Ibnu
Abbas.
2.
Seorang alim harus menyebarkan
ilmunya di antara umat manusia. Terlebih jika ilmu itu merupakan kata putus
dalam urusan yang diperselisihkan oleh manusia Ubay bin Kaab meriwayatkan hadis
kepada Ibnu Abbas dan Hur bin Qais di mana hadis itu menjadi hakim dalam urusan
yang mereka perselisihkan. Dan Ibnu Abbas meriwayatkan hadis ini kepada
teman-temannya sebagai bantahan kepada Nauf Al-Bakali yang menuntut bahawa
sohib Khidhir bukanlah Musa Bani Israil.
3.
Para ulama pewaris para Nabi harus
mengambil petunjuk para Nabi dengan mengingatkan manusia kepada Tuhan mereka,
membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka demi mensucikan jiwa mereka,
melunakkan hati mereka hingga menjadi dekat kepada Tuhan mereka, seperti yang
dilakukan oleh Musa dalam nasihatnya.
4.
Keutamaan bepergian mencari ilmu.
Musa pergi mencari orang yang lebih alim darinya. Keutamaan dan kedudukannya
tidak menghalanginya untuk mengikuti orang yang diharapkan bisa menularkan ilmu
kepadanya.
5.
Anjuran melayani ahli ilmu dan
kebaikan. Yusya' melayani Musa. Anas bin Malik melayani Nabi s.a.w.
6.
Boleh menyampaikan keletihan dan
kelelahan berdasarkan ucapan Musa, "Sungguh,
kita telah merasa letih kerana perjalanan kita ini." (QS. Al-Kahfi:
62). Sama dengan hal ini adalah ketika seseorang memberitakan sakit yang
dirasakannya, dengan catatan: pemberitaan itu tidak sampai pada tingkat
kemarahan terhadap takdir.
7.
Khidhir hanya mengetahui perkara
ghaib yang Allah sampaikan kepadanya. Oleh kerana itu, dia tidak mengetahui nama
Musa sebelum dia menanyakannya. Khidhir juga tidak mengetahui maksud kedatangan
Musa.
8.
Kemampuan Allah menghidupkan yang
mati. Dengan kudrat-Nya Dia menghidupkan ikan yang mati dan asin. Dan
perjalanan ikan di laut mengandung tanda kekuasaan Allah yang lain, "Lalu ikan itu melompat mengambil
jalannya ke laut." (QS. Al-Kahfi: 61)
9.
Berlemah lembut kepada pengikut dan
pembantu. Pemuda yang menyertai Musa lupa memberitahu Musa tentang ikan yang
telah dihidupkan oleh Allah. Hal ini membuat keduanya melakukan perjalanan
lebih panjang dari yang diperlukan, namun Musa tidak menyalahkan dan tidak
memarahinya.
10.
Tidak semua yang seseorang mengira bisa melakukannya, dia benar-benar
melakukannya. Musa berkata kepada hamba soleh, "Insya Allah kamu akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan
aku tidak menentangmu dalam suatu urusan apa pun." (QS. Al-Kahfi: 69).
Kemudian, terbuktilah kebenaran dugaan hamba soleh itu, bahawa Musa tidak mampu
bersabar.
11.
Hamba soleh ini melubangi perahu dan
membunuh seorang anak. Dia menyampaikan bahawa apa yang dilakukannya adalah
dengan perintah dan kehendak Allah. "Sebagai
rahmat dari Tuhanmu, dan bukannya aku melakukan itu menurut kemauanku
sendiri." (QS. Al-Kahfi: 82) Oleh kerana itu, tidak diperbolehkan bagi
siapa pun yang tidak memperoleh wahyu dari langit dan tidak menerima sedikit
pun ilmu Allah untuk merosak, membunuh dan membuat onar, dengan mengtuntutan
bahawa perbuatannya itu mengandung hikmah yang tersembunyi. Hamba soleh itu
bukan pengikut Musa, bukan pula pengikut Muhammad. Jika dia pengikut salah satu
dari keduanya, nescaya dia tidak boleh melanggar syariat yang berlaku.
12.
Siapa yang bertekad melakukan sesuatu
di masa datang, hendaknya dia mengucapkan, "Insya Allah." Sebagaimana
ucapan Musa, "Insya Allah kamu akan
mendapatiku sebagai seorang yang sabar." (QS. Al-Kahfi: 69) Dan
firman-Nya, "Dan janganlah
sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, 'Sesungguhnya aku akan
melakukannya besok pagi. Kecuali dengan menyebut insya Allah." (QS.
Al-Kahfi: 23-24)
13.
Di antara adab mencari ilmu adalah,
hendaknya murid bersabar dan patuh kepada muallim, "InsyaAllah kamu akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku
tidak akan menentangmu dalam satu urusan pun." (QS. Al-Kahfi: 69)
14.
Minimnya ilmu manusia di hadapan Allah.
Hamba soleh itu berkata kepada Musa, "Ilmuku dan ilmumu di depan ilmu
Allah hanyalah seperti yang diambil oleh burung itu dari laut.
15.
Seorang hamba kadangkala tidak
menyedari hikmah di balik takdir Allah yang berlaku pada hamba-hamba-Nya.
Kemudian, terungkaplah baginya apa yang dia kira sebagai cubaan dan ujian,
ternyata adalah kebaikan dan nikmat. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada
pemilik perahu, dan dua orang tua anak yang dibunuh oleh Khidhir.
16.
Bisa saja Allah menyediakan kebaikan
bagi anak kerana kebaikan bapak. Hamba soleh itu meluruskan dinding demi
menjaga kekayaan yang ditinggalkan oleh bapak soleh kepada anak-anaknya.
17.
Bersikap sopan kepada Allah dengan
menisbatkan kebaikan kepada-Nya, "Maka
Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya." (QS.Al-Kahfi:
82) Dan tidak menisbatkan keburukan kepada-Nya. Hamba soleh tersebut
menisbatkannya kepada dirinya sendiri, "Dan
aku ingin merosaknya." (QS. Al-Kahfi: 79). Dan pemuda yang bersama
Musa menyandarkan kealpaan kepada syaitan, "Dan
tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali syaitan." (QS.
Al-Kahfi: 63)
18.
Melakukan sesuatu yang berkesan negatif
paling ringan demi menghindari perkara yang lebih buruk. Hamba soleh itu
merosak perahu, untuk menjaga perahu, kerana jika perahu itu dibiarkan tanpa
cacat nescaya ia akan dirampas oleh raja yang gemar mengambil perahu yang baik.
19.
Merosak sebahagian harta demi menjaga
harta secara keseluruhan. Khidhir merosak perahu demi menjaganya, sebagaimana
dokter memotong tangan yang sakit kerana dikuatirkan penyakit itu akan menyebar
ke seluruh tubuh pasiennya.
20.
Diperbolehkannya naik perahu, seperti
yang dilakukan oleh Musa dan hamba soleh.
21.
Anjuran membawa bekal dalam bepergian.
Musa berkata kepada pemuda yang menyertainya, "Siapkan makan siang
kita." Jika keduanya tidak membawa makanan, nescaya Musa tidak akan
meminta makanan. Sebahagian orang di kalangan umat ini telah mengtuntutan
bahawa membawa bekal di perjalanan, khususnya haji, termasuk menafikan tawakal.
Mereka salah, kerana Allah telah meminta pada jamaah haji agar berbekal untuk
safar mereka. "Berbekallah, dan
sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Bertaqwalah kepada-Ku, hai
orang-orang yang berakal ." (QS. Al-Baqarah: 197)
22.
Anjuran mencari makan jika di suatu
kota terdapat tempat khusus untuk menjual makanan.
23.
Hadis ahad diterima dalam bidang
akidah. Lain halnya dengan pendapat yang mengatakan hadis ahad tertolak di
bidang akidah. Ibnu Abbas menerima hadis Ubay bin Kaab yang hanya seorang. Para
murid Ibnu Abbas menerima hadis Ibnu Abbas yang hanya seorang, dan
berita-berita para Nabi termasuk akidah.
24.
Kesalahan pendapat yang berkata bahawa
Khidhir hidup sampai pada masa kini. Ini adalah pendapat tanpa dalil. Jika
Khidhir hidup, nescaya dia pasti datang kepada Rasulullah s.a.w. dan
mengikutinya. Para ulama besar seperti Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir dan Abu Faraj
Ibnul Jauzi 15 telah menyatakan bahawa hadis-hadis yang memberitakan kehidupan
Khidhir, tidaklah shahih. Sebahagian penulis banyak menukil kisah-kisah yang
menunjukkan hidupnya, Khidhir dan semua kisah itu adalah batil.
25.
Hendaklah seseorang bersikap hati-hati
dalam mengingkari orang yang berilmu lagi baik, dengan menanyakan alasan mereka
yang diduga menyelisihi kebenaran. Musa melihat perbuatan hamba soleh itu
salah, padahal sebenarnya benar.
15
Rujuklah
Al-Manarul Munif, Ibnul Qayyim, 67. Al-Bidayah wal Nihayah, 1/334; Al-Maudu'at,
Ibnul Jauzi, 1/197.
No comments:
Post a Comment