KISAH KEDUA BELAS
KISAH SAMIRI PEMBUAT ANAK SAPI
Hadis
di bawah ini mengandung tambahan dan perincian terkait dengan penyembahan Bani
Israil terhadap anak lembu yang terbuat dari emas ciptaan Samiri dan apa yang
dilakukan oleh Musa terhadap anak sapi tersebut, bagaimana dia
menenggelamkannya di air dan bagaimana Bani Israil saling membunuh.
NASH HADIS
Hakim
meriwayatkan dalam Mustadrak dari Ali berkata, "Ketika Musa bersegera
kepada Tuhannya, Samiri mengumpulkan perhiasan semampunya: perhiasan Bani
Israil. Dia mencetaknya menjadi anak sapi, kemudian dia memasukkan segenggam
(dari jejak rasul) ke dalam perutnya. Ternyata ia menjadi anak sapi yang
bersuara.
Maka
Samiri berkata kepada mereka, 'Ini adalah Tuhan kalian dan Tuhan Musa.’ Harun
berkata kepada mereka,’Wahai kaum, bukankah Tuhan kalian telah memberi janji
baik kepada kalian?’ Ketika Musa kembali kepada Bani Israil yang telah
disesatkan oleh Samiri, Musa memegang kepala saudaranya, maka Harun berkata apa
yang dikatakan Musa kepada Samiri, ’Apa yang membuatmu melakukan ini?’ Samiri
menjawab, ’Aku mengambil segenggam dari jejak rasul, lalu aku melemparkannya.
Demikianlah nafsuku membujukku."
Lalu
Musa mendatangi anak sapi itu. Dia meletakkan serutan dan menyerutnya di tepi
sungai. Maka tidak seorang pun yang minum dari air itu yang menyembah anak sapi
kecuali wajahnya menguning seperti emas. Mereka berkata kepada Musa, ’Bagaimana
taubat kami?’ Musa menjawab, ’Sebahagian dari kalian membunuh sebahagian yang
lain.’ Lalu mereka mengambil pisau. Maka mulailah seorang membunuh bapaknya dan
saudaranya tanpa peduli, hingga yang terbunuh berjumlah tujuh puluh ribu. Lalu
Allah mewahyukan kepada Musa, "Perintahkan mereka agar berhenti. Aku telah
mengampuni yang terbunuh dan memaafkan yang hidup."
PENJELASAN
HADIS
Allah
telah menyampaikan kepada kita bahawa Bani Israil menyembah sapi ketika Musa
pergi bermunajat kepada Tuhannya pada waktu yang telah ditentukan, dan bahwa
Musa pulang dalam keadaan sedih dan marah ketika Tuhannya menyampaikan
kepadanya tentang apa menimpa pada kaumnya. Ketika Musa sampai kepada mereka,
dia mencela mereka atas perbuatan mereka. Mereka beralasan di depan Musa bahawa
mereka melemparkan perhiasan dan emas yang mereka ambil dari orang-orang Mesir.
Lalu Samiri membuat anak sapi bagi mereka. Dia melemparkan kepadanya segenggam
tanah dari jejak Jibril manakala dia datang untuk membinasakan Fir'aun dan
kaumnya, maka Samiri mengeluarkan untuk mereka seekor anak sapi yang berjasad
dan bersuara.
Musa
meminta pertanggungjawaban kepada saudaranya, maka dia menyampaikan alasannya.
Musa menuntut pertanggungjawaban dari Samiri atas dosa yang telah diperbuatnya.
Allah telah menyampaikan kepada kita bahawa Musa membakar anak sapi itu, lalu
menenggelamkannya di dalam air. Dia juga memberitakan bahawa Dia memerintahkan
Bani Israil untuk saling membunuh disebabkan dosa menyembah anak sapi.
Hadis
ini menjelaskan cara Musa menenggelamkan anak sapi tersebut. Musa memerintahkan
agar ia diserut dengan serutan supaya Bani Israil bisa melihat betapa hinanya
anak sapi ini, yang telah berubah menjadi seonggok debu dan dilempar di sungai
yang ada di sisi mereka. Dan di antara keajaiban Allah adalah bahawa semua
orang yang menyembah anak sapi, manakala mereka minum dari air sungai itu,
wajah mereka menjadi kuning seperti warna emas.
Hadis
ini menjelaskan bahawa orang-orang yang menyembah anak sapi saling bunuh
sebahagian dengan sebahagian yang lain. Mereka mengambil pisau. Tidak peduli
siapa yang dibunuhnya, apakah itu bapaknya, saudaranya, atau anaknya, hingga
yang terbunuh mencapai tujuh puluh ribu orang. Lalu Allah mewahyukan kepada
Musa agar menghentikan pembunuhan. Allah telah mengampuni orang yang terbunuh
dan yang masih hidup.
PELAJARAN-PELAJARAN
DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
1.
Keterangan tentang cara Musa
menenggelamkan anak sapi yang disembah oleh Bani Israil, iaitu diserut dengan
serutan dan hasilnya yang seperti tepung itu ditebar ke sungai.
2.
Keterangan tentang cara Bani Israil
saling membunuh. Mereka yang saling membunuh itu adalah orang-orang yang
menyembah sapi, bukan orang-orang yang tidak menyembahnya. Orang-orang yang
menyembahnya memiliki tanda, iaitu berubahnya kulit wajah mereka menjadi warna
kuning emas setelah mereka minum air sungai di mana serutan anak sapi dilempar
di dalamnya.
3.
Kemuliaan umat ini di hadapan Allah dengan
diterimanya taubat mereka tanpa harus saling membunuh, kecuali dalam beberapa
perkara, seperti merajam orang berzina yang terbukti zinanya dan membunuh orang
murtad yang bersikeras mempertahankan kemurtadannya.
4. Banyaknya jumlah Bani Israil pada zaman Musa.
Orang yang terbunuh berjumlah tujuh puluh ribu orang.
ketidakmampuan
kita, maka Dia menghalalkannya untuk kita.
PENJELASAN
HADIS
Rasulullah menyampaikan kepada kita bahawa salah seorang Nabiyullah berperang untuk membuka sebuah desa. Nabi ini adalah Yusya' bin Nun, salah seorang Nabi Bani Israil. Dia ini telah menyertai Musa dalam hidupnya. Dia menemani Musa dalam perjalanannya kepada Khidhir sebagaimana telah dijelaskan dalam kisah Musa dan Khidhir. Allah memberinya wahyu setelah Musa wafat dan Musa mengangkatnya sebagai penerusnya di Bani Israil. Dialah pemimpin yang berkat jasanya tanah suci bisa direbut kembali.
16
Hadis
shahih menyatakan hal itu diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya. Lihat Fathul
Bari, 6/221.
Nabiyullah
Yusya' pada saat persiapannya menuju kota yang hendak ditaklukkan dia berusaha
supaya pasukannya menjadi pasukan yang kuat dan tangguh. Oleh kerananya, dia
menyortir prajurit-prajurit yang bisa menjadi biang kekalahan, kerana hati
mereka lebih disibukkan oleh perkara dunia yang membelenggu hati dan pikiran
mereka. Yusya' mengeluarkan tiga kelompok prajurit yang itu tidak diizinkan
untuk pergi berperang.
Kelompok
pertama adalah orang yang telah berakad nikah tetapi belum menyentuh isterinya.
Kelompok ini tidak diragukan pastilah sangat tergantung hatinya dengan
isterinya, lebih-lebih jika dia masih muda. Kelompok kedua adalah orang yang
sibuk membangun rumah dan belum menyelesaikan bangunannya. Kelompok ketiga
adalah orang yang membeli unta atau domba bunting sementara dia menantikan
kelahirannya.
Prinsip
yang dipegang oleh Nabi ini menunjukkan bahwa dia adalah panglima yang unggul,
pemilik taktik jitu dalam memimpin dan menyiapkan bala tentara sehingga
kemenangan bisa diwujudkan. Prajurit tidak menang dengan jumlah besarnya, akan
tetapi dengan kualitas. Ini lebih penting daripada jumlah dan kuantiti. Oleh
kerananya, Yusya' mengeluarkan orang-orang yang berhati sibuk dari pasukannya,
yakni orang-orang yang badannya di medan perang tetapi pikirannya bersama
isteri yang belum disentuhnya atau rumah yang belum diselesaikannya atau ternak
yang ditunggu kelahirannya.
Apa
yang dilakukan oleh Yusya' ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Thalut
ketika melarang pasukannya untuk minum dari sungai kecuali orang yang menciduk
air dengan tangannya. Saat itu sedikit dari mereka yang minum. Thalut telah
membersihkan pasukannya dari unsur-unsur pelemah yang menjadi titik kekalahan.
Allah
telah menyampaikan kepada Rasul-Nya bahawa mundurnya orang-orang munafik di
perang Uhud mengandung kebaikan bagi orang-orang mukmin. "Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, nescaya mereka tidak
menambah kamu selain dari kerosakan belaka, dan tentu mereka akan
bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan
diantaramu." (QS. At-Taubah: 47)
Dengan
pasukannya Yusya' berangkat ke kota yang hendak ditaklukkannya. Dia mendekati
kota itu pada waktu Ashar di hari yang sama. Ini berarti kesempatan untuk
membuka kota itu tidaklah banyak, kerana berperang di malam hari tidaklah mudah
dan bisa jadi hari itu adalah hari Jum'at. Dia harus menghentikan perang begitu
matahari terbenam, kerana itu berarti tiba pada hari Sabtu telah tiba dan
perang di hari Sabtu hukumnya haram bagi Bani Israil. Maka dia harus mundur dari
kota itu sebelum merebutnya, dan ini berarti memberi peluang kepada penduduk
kota untuk memperkuat pasukannya, memperbaiki benteng-bentengnya dan menambah
kekuatan senjatanya. Yusya' menghadap matahari dan berkata kepadanya,
"Kamu diperintahkan, aku juga diperintahkan." Kemudian Yusya' berdoa
kepada Allah, "Ya Allah, tahanlah ia untuk kami."
Allah
mengabulkan permintaannya dan menunda terbenamnya matahari hingga kemenangannya
diwujudkan. Iman Yusya' begitu besar. Dia yakin kudrat Allah di atas segala
sesuatu. Dia mampu memanjangkan siang sehingga kemenangan bisa diraih sebelum
terbenamnya matahari. Urusan seperti ini tidak sulit bagi Allah, dan kita
mengetahui pada hari ini bahawa siang dan malam terjadi kerana berputarnya bumi
mengelilingi dirinya.
Dan
sepertinya – ilmu yang sebenarnya berada di sisi Allah – perputaran bumi
berjalan lambat dengan kudrat Allah hingga kemenangan terwujudkan. Allah tidak
menghalalkan harta rampasan perang bagi umat manapun sebelum kita. Harta
rampasan perang dikumpulkan, lalu api turun dari langit dan membakarnya kecuali
tidak seorang pun dari pasukan yang menggelapkannya. Jika harta rampasan perang
ada yang digelapkan, maka api menolak untuk melahapnya. Ini berarti Allah tidak
ridha kepada mereka.
Harta
rampasan perang dikumpulkan, api pun turun tetapi tidak memakan apa pun. Maka
Yusya' berkata, "Diantara kalian ada yang menggelapkan harta rampasan
perang." Untuk membongkarnya Yusya' menyuruh masing-masing kabilah
mengeluarkan satu orang untuk membaiatnya. Maka tangannya menempel lengket di
tangan orang yang berasal dari kabilah yang menggelapkan harta rampasan perang.
Yusya' membaiat anggota kabilah itu satu per satu. Tangannya lengket dengan
tangan dua atau tiga orang, dan Yusya' berkata, "Penggelapannya ada pada
kalian." Akhirnya mereka mengeluarkan sebongkah emas besar dalam bentuk
kepala sapi dan diletakkan di antara harta rampasan yang lain. Api turun dan
memakannya. Hukum ini telah mansukh bagi kita. Harta rampasan perang telah
dihalalkan bagi kita sebagai rahmat dari Allah kepada kita dan kurnia-Nya. Dan
dihalalkannya harta rampasan perang merupakan salah satu kekhususan atas umat
ini.
VERSI TAURAT
Terdapat
Safar yang panjang di dalam Taurat yang bernama Safar Yusya’. Hanya saja, nama
yang tertulis padanya adalah Yasyu'. Ini adalah nama Ibrani yang berarti Yehova
Khalash, dan Yehova dalam Yahudi adalah salah satu nama Allah Taala. Buku kamus
Al-Kitabul Muqaddas menyebutkan dengan mengambil dari Taurat, bahawa di
beberapa tempat, nama Yasyu' pada dasarnya adalah Husya' atau Hausya', dan
bahawa Musa-lah yang memanggilnya Yasyu'. Yasyu' adalah pengganti Musa. Dia
pertama kali sebagai pelayan Musa. Dalam hidupnya Musa menugaskannya untuk
mengurusi sebahagian perkara-perkara besar.
17
Taurat
menyebutkan dalam Safar yang dinisbatkan kepada Yusya' bahawa Bani Israil masuk
Palestina setelah Musa wafat dengan dipimpin oleh Yasyu'. Di sana terdapat
banyak perincian tentang cara masuk mereka, perang-perang yang mereka jalani
dengan pimpinan Yasyu', dan kemenangan-kemenangan yang mereka raih.
Disebutkan
di Ishah ketujuh dalam Safar Yasyu’ tentang kisah penggelapan yang dilakukan
oleh sebahagian Bani Israil, bagaimana Yusya' membongkar orang-orang yang
melakukan penggelapan, dan penentuan siapa yang menggelapkan. Akan tetapi, yang
disebutkan di dalam hadis adalah lebih teliti daripada dalam Taurat. Hadis
menjelaskan bahawa Yusya' membongkarnya dengan berjabatan tangan seperti yang
ada di dalam hadis dan ini tidak dijelaskan dalam Taurat.
Taurat
menyebutkan bahawa pelaku penggelapan hanyalah seorang, sementara hadis
menyatakan dua atau 17 Kamus Al-Kitabul Muqoddas, hlm. 1068. tiga orang. Taurat
juga menyebutkan bahawa seorang lelaki menggelapkan baju Syinari yang mahal,
dua ratus Syaqil perak dan lidah emas seberat lima puluh Syaqil. Padahal, yang
benar adalah bahawa harta yang digelapkan adalah kepala sapi dari emas seperti
dalam hadis.
Taurat
menyebutkan di Ishah kesepuluh di Safar Yusya’ tentang ditahannya matahari
untuk Yusya'. Hal itu dijelaskan dalam Safar tersebut poin 12-13, "Ketika
itu Yusya' berbicara kepada Tuhan pada hari ketika Tuhan menyerahkan
orang-orang Umuriyin di depan Bani Israil.
Dia
berkata di depan Bani Israil, 'Wahai matahari, tetaplah kamu di atas Jab'un dan
rembulan di atas lembah Ailun.' Maka matahari berhenti dan rembulan juga
berhenti, sehingga rakyat bisa membalas musuh-musuhnya. Bukankah ini tertulis
dalam Safar Yasyir?
Matahari
berhenti di tengah langit dan ia tidak terbenam selama hampir satu hari
penuh." Nash Taurat ini harus ditimbang kebenarannya dengan kacamata
hadis. Yusya' tidak memerintahkan matahari untuk berhenti, tetapi dia berdoa
kepada Allah agar menahannya untuknya. Matahari tidak berada di tengah-tengah
langit, tetapi ia telah condong untuk terbenam kerana doa Yusya' pada waktu
Ashar atau sesudahnya.
Ada
hal lain yang harus dipembetulan, iaitu penyelewengan yang terjadi pada Taurat.
Taurat menyebutkan dalam Ishah kesepuluh bahawa peperangan di mana matahari
ditahan untuk Yusya' terjadi setelah perang yang melibatkan penggelapan harta
rampasan perang. Yang benar dan sesuai dengan hadis adalah bahawa keduanya
terjadi dalam satu peperangan.
Di
antara penyimpangan yang terjadi pada Taurat adalah bahawa Taurat menyebutkan
Bani Israil menyimpan harta rampasan perang dalam perang Ariha di Baitur Rab,
baik itu emas atau perak atau bejana kuningan atau besi, dan itu dengan
perintah Allah kepada mereka. Harta yang digelapkan dibakar oleh Bani Israil
bersama lelaki yang menggelapkannya beserta putra-putrinya, keledainya,
kambingnya, tendanya dan seluruh hartanya. Adapun harta rampasan perang setelah
itu, maka Ishah kedelapan poin 2 dalam Safar Yasyu’ menyebutkan bahawa Tuhan
membolehkannya bagi mereka. Nashnya: "Hanya saja harta rampasan perangnya.
Ternak-ternaknya ambillah ia untuk diri kalian." Poin 27 dalam Safar yang
sama, "Akan tetapi ternak dan harta rampasan perang kota itu diambil oleh
Bani Israil untuk diri mereka berdasarkan firman Tuhan yang diperintahkan
kepada Yasyu'.”
Yang
disebutkan di atas termasuk penyelewengan yang menimpa Taurat tentang harta
rampasan yang tidak dihalalkan kepada umat sebelum kita. Api datang, maka ia
memakan harta rampasan perang yang terdiri dari perabotan, pakaian, emas, dan
perak sebagaimana hal ini ditetapkan oleh banyak dalil shahih. Salah satunya
disebutkan oleh Rasulullah dalam hadis ini. Beliau s.a.w. memberitakan bahawa
api yang turun dari langit menolak memakan harta rampasan perang jika terjadi
penggelapan. Baru ketika penggelapan itu dibongkar dan diletakkan bersama harta
rampasan lainnya, maka turunlah api yang membakarnya. Tidak benar jika yang
membakarnya adalah Bani Israil. Kalaupun pelaku penggelapan harta rampasan
perang boleh dibakar sebagai hukuman atasnya, maka bukanlah termasuk keadilan
jika isterinya, anak-anaknya dan ternaknya pun ikut dibakar, seperti yang
dituntutan oleh para penyeleweng Taurat.
PELAJARAN-PELAJARAN
DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
1.
Peperangan yang dilakukan oleh Yusya'
dengan diikuti oleh Bani Israil menunjukkan bahawa berperang telah diwajibkan
atas umat-umat sebelum umat ini. Bukan khusus bagi kita saja. Allah telah
menghukum Bani Israil dengan kesesatan selama empat puluh tahun manakala mereka
menolak berperang melawan orang-orang yang sombong.
2.
Firman Allah ini menunjukkan bahawa
para Nabi dalam jumlah yang besar telah berperang, "Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka
sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa." (QS. Ali Imran: 146).
Firman Allah yang menunjukkan kewajiban berperang atas Bani Israil,"
Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa,
iaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, 'Angkatlah untuk kami
seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.' Nabi
mereka menjawab, 'Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu
tidak akan berperang.' Mereka menjawab, 'Mengapa kami tidak mau berperang di
jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami
dan dari anak-anak kami?' Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka,
mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah
Maha Mengetahui orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Baqarah: 246)
3.
Hadis ini membimbing pemimpin agar
tidak menyerahkan tugas-tugas besar kepada orang-orang di mana hati mereka
sibuk dengan perkara yang menghalangi mereka untuk menunaikannya.
4.
Pengendalian prajurit memerlukan ilmu
tentang tabiat-tabiat jiwa dan pemilihan kualitas yang memungkinkannya untuk
bersabar di medan perang, serta membuang unsur penyebab kekalahan pasukan
sebagaimana yang dilakukan oleh Yusya'.
5.
Hadis ini mengandung ayat yang nyata
dan mukjizat mengagumkan yang menunjukkan kudrat Allah dan dukungan-Nya kepada
Rasul-Rasul-Nya, serta pertolongan-Nya kepada mereka dalam tugas-tugas yang
dibebankan atas mereka. Di antaranya adalah menahan matahari dan memanjangkan
siang, sehingga para pasukan bisa meraih kemenangan. Allah juga menunjukkan
kabilah di mana penggelapan terjadi padanya, termasuk para pelaku penggelapan,
sebagaimana telah disebutkan dalam hadis.
6.
Harta rampasan perang diharamkan atas
umat-umat sebelum kita. Dan Allah memberikan kekhususan kepada umat ini dengan
menghalalkannya bagi mereka.
7. Dosa menggelapkan harta rampasan perang.
Api tidak mau membakar harta rampasan di mana padanya terjadi penggelapan.
Rasulullah telah menyampaikan bahawa seorang lelaki menggelapkan selimut, maka
ia membakarnya di kuburnya. Orang yang menggelapkan harta rampasan perang, maka
dia akan memikulnya di hari Kiamat.
8. Pada Bani Israil terdapat orang-orang
soleh yang berjihad fi sabilillah. Allah membantu dan memberi mereka
kemenangan.
9. Walaupun Yusya' telah membersihkan
pasukannya dari unsur lemah di mana kekalahan mungkin terjadi melalui mereka,
tetap saja tersisa orang-orang lemah iman pada pasukannya, iaitu orang-orang
yang menggelapkan harta rampasan perang.
10.
Hadis ini membetulkan sebahagian
penyimpangan dalam Taurat.
No comments:
Post a Comment