Tuesday, 15 March 2016

KISAH SAMIRI PEMBUAT ANAK SAPI

KISAH KEDUA BELAS
KISAH SAMIRI PEMBUAT ANAK SAPI

Hadis di bawah ini mengandung tambahan dan perincian terkait dengan penyembahan Bani Israil terhadap anak lembu yang terbuat dari emas ciptaan Samiri dan apa yang dilakukan oleh Musa terhadap anak sapi tersebut, bagaimana dia menenggelamkannya di air dan bagaimana Bani Israil saling membunuh.

NASH HADIS

Hakim meriwayatkan dalam Mustadrak dari Ali berkata, "Ketika Musa bersegera kepada Tuhannya, Samiri mengumpulkan perhiasan semampunya: perhiasan Bani Israil. Dia mencetaknya menjadi anak sapi, kemudian dia memasukkan segenggam (dari jejak rasul) ke dalam perutnya. Ternyata ia menjadi anak sapi yang bersuara.

Maka Samiri berkata kepada mereka, 'Ini adalah Tuhan kalian dan Tuhan Musa.’ Harun berkata kepada mereka,’Wahai kaum, bukankah Tuhan kalian telah memberi janji baik kepada kalian?’ Ketika Musa kembali kepada Bani Israil yang telah disesatkan oleh Samiri, Musa memegang kepala saudaranya, maka Harun berkata apa yang dikatakan Musa kepada Samiri, ’Apa yang membuatmu melakukan ini?’ Samiri menjawab, ’Aku mengambil segenggam dari jejak rasul, lalu aku melemparkannya. Demikianlah nafsuku membujukku."

Lalu Musa mendatangi anak sapi itu. Dia meletakkan serutan dan menyerutnya di tepi sungai. Maka tidak seorang pun yang minum dari air itu yang menyembah anak sapi kecuali wajahnya menguning seperti emas. Mereka berkata kepada Musa, ’Bagaimana taubat kami?’ Musa menjawab, ’Sebahagian dari kalian membunuh sebahagian yang lain.’ Lalu mereka mengambil pisau. Maka mulailah seorang membunuh bapaknya dan saudaranya tanpa peduli, hingga yang terbunuh berjumlah tujuh puluh ribu. Lalu Allah mewahyukan kepada Musa, "Perintahkan mereka agar berhenti. Aku telah mengampuni yang terbunuh dan memaafkan yang hidup."

PENJELASAN HADIS

Allah telah menyampaikan kepada kita bahawa Bani Israil menyembah sapi ketika Musa pergi bermunajat kepada Tuhannya pada waktu yang telah ditentukan, dan bahwa Musa pulang dalam keadaan sedih dan marah ketika Tuhannya menyampaikan kepadanya tentang apa menimpa pada kaumnya. Ketika Musa sampai kepada mereka, dia mencela mereka atas perbuatan mereka. Mereka beralasan di depan Musa bahawa mereka melemparkan perhiasan dan emas yang mereka ambil dari orang-orang Mesir. Lalu Samiri membuat anak sapi bagi mereka. Dia melemparkan kepadanya segenggam tanah dari jejak Jibril manakala dia datang untuk membinasakan Fir'aun dan kaumnya, maka Samiri mengeluarkan untuk mereka seekor anak sapi yang berjasad dan bersuara.

Musa meminta pertanggungjawaban kepada saudaranya, maka dia menyampaikan alasannya. Musa menuntut pertanggungjawaban dari Samiri atas dosa yang telah diperbuatnya. Allah telah menyampaikan kepada kita bahawa Musa membakar anak sapi itu, lalu menenggelamkannya di dalam air. Dia juga memberitakan bahawa Dia memerintahkan Bani Israil untuk saling membunuh disebabkan dosa menyembah anak sapi.

Hadis ini menjelaskan cara Musa menenggelamkan anak sapi tersebut. Musa memerintahkan agar ia diserut dengan serutan supaya Bani Israil bisa melihat betapa hinanya anak sapi ini, yang telah berubah menjadi seonggok debu dan dilempar di sungai yang ada di sisi mereka. Dan di antara keajaiban Allah adalah bahawa semua orang yang menyembah anak sapi, manakala mereka minum dari air sungai itu, wajah mereka menjadi kuning seperti warna emas.

Hadis ini menjelaskan bahawa orang-orang yang menyembah anak sapi saling bunuh sebahagian dengan sebahagian yang lain. Mereka mengambil pisau. Tidak peduli siapa yang dibunuhnya, apakah itu bapaknya, saudaranya, atau anaknya, hingga yang terbunuh mencapai tujuh puluh ribu orang. Lalu Allah mewahyukan kepada Musa agar menghentikan pembunuhan. Allah telah mengampuni orang yang terbunuh dan yang masih hidup.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS

1.      Keterangan tentang cara Musa menenggelamkan anak sapi yang disembah oleh Bani Israil, iaitu diserut dengan serutan dan hasilnya yang seperti tepung itu ditebar ke sungai.

2.      Keterangan tentang cara Bani Israil saling membunuh. Mereka yang saling membunuh itu adalah orang-orang yang menyembah sapi, bukan orang-orang yang tidak menyembahnya. Orang-orang yang menyembahnya memiliki tanda, iaitu berubahnya kulit wajah mereka menjadi warna kuning emas setelah mereka minum air sungai di mana serutan anak sapi dilempar di dalamnya.

3.   Kemuliaan umat ini di hadapan Allah dengan diterimanya taubat mereka tanpa harus saling membunuh, kecuali dalam beberapa perkara, seperti merajam orang berzina yang terbukti zinanya dan membunuh orang murtad yang bersikeras mempertahankan kemurtadannya.

4.  Banyaknya jumlah Bani Israil pada zaman Musa. Orang yang terbunuh berjumlah tujuh puluh ribu orang.

ketidakmampuan kita, maka Dia menghalalkannya untuk kita.

PENJELASAN HADIS

Rasulullah menyampaikan kepada kita bahawa salah seorang Nabiyullah berperang untuk membuka sebuah desa. Nabi ini adalah Yusya' bin Nun, salah seorang Nabi Bani Israil. Dia ini telah menyertai Musa dalam hidupnya. Dia menemani Musa dalam perjalanannya kepada Khidhir sebagaimana telah dijelaskan dalam kisah Musa dan Khidhir. Allah memberinya wahyu setelah Musa wafat dan Musa mengangkatnya sebagai penerusnya di Bani Israil. Dialah pemimpin yang berkat jasanya tanah suci bisa direbut kembali.
16
Hadis shahih menyatakan hal itu diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya. Lihat Fathul Bari, 6/221.

Nabiyullah Yusya' pada saat persiapannya menuju kota yang hendak ditaklukkan dia berusaha supaya pasukannya menjadi pasukan yang kuat dan tangguh. Oleh kerananya, dia menyortir prajurit-prajurit yang bisa menjadi biang kekalahan, kerana hati mereka lebih disibukkan oleh perkara dunia yang membelenggu hati dan pikiran mereka. Yusya' mengeluarkan tiga kelompok prajurit yang itu tidak diizinkan untuk pergi berperang.

Kelompok pertama adalah orang yang telah berakad nikah tetapi belum menyentuh isterinya. Kelompok ini tidak diragukan pastilah sangat tergantung hatinya dengan isterinya, lebih-lebih jika dia masih muda. Kelompok kedua adalah orang yang sibuk membangun rumah dan belum menyelesaikan bangunannya. Kelompok ketiga adalah orang yang membeli unta atau domba bunting sementara dia menantikan kelahirannya.

Prinsip yang dipegang oleh Nabi ini menunjukkan bahwa dia adalah panglima yang unggul, pemilik taktik jitu dalam memimpin dan menyiapkan bala tentara sehingga kemenangan bisa diwujudkan. Prajurit tidak menang dengan jumlah besarnya, akan tetapi dengan kualitas. Ini lebih penting daripada jumlah dan kuantiti. Oleh kerananya, Yusya' mengeluarkan orang-orang yang berhati sibuk dari pasukannya, yakni orang-orang yang badannya di medan perang tetapi pikirannya bersama isteri yang belum disentuhnya atau rumah yang belum diselesaikannya atau ternak yang ditunggu kelahirannya.

Apa yang dilakukan oleh Yusya' ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Thalut ketika melarang pasukannya untuk minum dari sungai kecuali orang yang menciduk air dengan tangannya. Saat itu sedikit dari mereka yang minum. Thalut telah membersihkan pasukannya dari unsur-unsur pelemah yang menjadi titik kekalahan.

Allah telah menyampaikan kepada Rasul-Nya bahawa mundurnya orang-orang munafik di perang Uhud mengandung kebaikan bagi orang-orang mukmin. "Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, nescaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerosakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan diantaramu." (QS. At-Taubah: 47)

Dengan pasukannya Yusya' berangkat ke kota yang hendak ditaklukkannya. Dia mendekati kota itu pada waktu Ashar di hari yang sama. Ini berarti kesempatan untuk membuka kota itu tidaklah banyak, kerana berperang di malam hari tidaklah mudah dan bisa jadi hari itu adalah hari Jum'at. Dia harus menghentikan perang begitu matahari terbenam, kerana itu berarti tiba pada hari Sabtu telah tiba dan perang di hari Sabtu hukumnya haram bagi Bani Israil. Maka dia harus mundur dari kota itu sebelum merebutnya, dan ini berarti memberi peluang kepada penduduk kota untuk memperkuat pasukannya, memperbaiki benteng-bentengnya dan menambah kekuatan senjatanya. Yusya' menghadap matahari dan berkata kepadanya, "Kamu diperintahkan, aku juga diperintahkan." Kemudian Yusya' berdoa kepada Allah, "Ya Allah, tahanlah ia untuk kami."

Allah mengabulkan permintaannya dan menunda terbenamnya matahari hingga kemenangannya diwujudkan. Iman Yusya' begitu besar. Dia yakin kudrat Allah di atas segala sesuatu. Dia mampu memanjangkan siang sehingga kemenangan bisa diraih sebelum terbenamnya matahari. Urusan seperti ini tidak sulit bagi Allah, dan kita mengetahui pada hari ini bahawa siang dan malam terjadi kerana berputarnya bumi mengelilingi dirinya.

Dan sepertinya – ilmu yang sebenarnya berada di sisi Allah – perputaran bumi berjalan lambat dengan kudrat Allah hingga kemenangan terwujudkan. Allah tidak menghalalkan harta rampasan perang bagi umat manapun sebelum kita. Harta rampasan perang dikumpulkan, lalu api turun dari langit dan membakarnya kecuali tidak seorang pun dari pasukan yang menggelapkannya. Jika harta rampasan perang ada yang digelapkan, maka api menolak untuk melahapnya. Ini berarti Allah tidak ridha kepada mereka.

Harta rampasan perang dikumpulkan, api pun turun tetapi tidak memakan apa pun. Maka Yusya' berkata, "Diantara kalian ada yang menggelapkan harta rampasan perang." Untuk membongkarnya Yusya' menyuruh masing-masing kabilah mengeluarkan satu orang untuk membaiatnya. Maka tangannya menempel lengket di tangan orang yang berasal dari kabilah yang menggelapkan harta rampasan perang. Yusya' membaiat anggota kabilah itu satu per satu. Tangannya lengket dengan tangan dua atau tiga orang, dan Yusya' berkata, "Penggelapannya ada pada kalian." Akhirnya mereka mengeluarkan sebongkah emas besar dalam bentuk kepala sapi dan diletakkan di antara harta rampasan yang lain. Api turun dan memakannya. Hukum ini telah mansukh bagi kita. Harta rampasan perang telah dihalalkan bagi kita sebagai rahmat dari Allah kepada kita dan kurnia-Nya. Dan dihalalkannya harta rampasan perang merupakan salah satu kekhususan atas umat ini.

VERSI TAURAT

Terdapat Safar yang panjang di dalam Taurat yang bernama Safar Yusya’. Hanya saja, nama yang tertulis padanya adalah Yasyu'. Ini adalah nama Ibrani yang berarti Yehova Khalash, dan Yehova dalam Yahudi adalah salah satu nama Allah Taala. Buku kamus Al-Kitabul Muqaddas menyebutkan dengan mengambil dari Taurat, bahawa di beberapa tempat, nama Yasyu' pada dasarnya adalah Husya' atau Hausya', dan bahawa Musa-lah yang memanggilnya Yasyu'. Yasyu' adalah pengganti Musa. Dia pertama kali sebagai pelayan Musa. Dalam hidupnya Musa menugaskannya untuk mengurusi sebahagian perkara-perkara besar.
17
Taurat menyebutkan dalam Safar yang dinisbatkan kepada Yusya' bahawa Bani Israil masuk Palestina setelah Musa wafat dengan dipimpin oleh Yasyu'. Di sana terdapat banyak perincian tentang cara masuk mereka, perang-perang yang mereka jalani dengan pimpinan Yasyu', dan kemenangan-kemenangan yang mereka raih.

Disebutkan di Ishah ketujuh dalam Safar Yasyu’ tentang kisah penggelapan yang dilakukan oleh sebahagian Bani Israil, bagaimana Yusya' membongkar orang-orang yang melakukan penggelapan, dan penentuan siapa yang menggelapkan. Akan tetapi, yang disebutkan di dalam hadis adalah lebih teliti daripada dalam Taurat. Hadis menjelaskan bahawa Yusya' membongkarnya dengan berjabatan tangan seperti yang ada di dalam hadis dan ini tidak dijelaskan dalam Taurat.

Taurat menyebutkan bahawa pelaku penggelapan hanyalah seorang, sementara hadis menyatakan dua atau 17 Kamus Al-Kitabul Muqoddas, hlm. 1068. tiga orang. Taurat juga menyebutkan bahawa seorang lelaki menggelapkan baju Syinari yang mahal, dua ratus Syaqil perak dan lidah emas seberat lima puluh Syaqil. Padahal, yang benar adalah bahawa harta yang digelapkan adalah kepala sapi dari emas seperti dalam hadis.

Taurat menyebutkan di Ishah kesepuluh di Safar Yusya’ tentang ditahannya matahari untuk Yusya'. Hal itu dijelaskan dalam Safar tersebut poin 12-13, "Ketika itu Yusya' berbicara kepada Tuhan pada hari ketika Tuhan menyerahkan orang-orang Umuriyin di depan Bani Israil.

Dia berkata di depan Bani Israil, 'Wahai matahari, tetaplah kamu di atas Jab'un dan rembulan di atas lembah Ailun.' Maka matahari berhenti dan rembulan juga berhenti, sehingga rakyat bisa membalas musuh-musuhnya. Bukankah ini tertulis dalam Safar Yasyir?

Matahari berhenti di tengah langit dan ia tidak terbenam selama hampir satu hari penuh." Nash Taurat ini harus ditimbang kebenarannya dengan kacamata hadis. Yusya' tidak memerintahkan matahari untuk berhenti, tetapi dia berdoa kepada Allah agar menahannya untuknya. Matahari tidak berada di tengah-tengah langit, tetapi ia telah condong untuk terbenam kerana doa Yusya' pada waktu Ashar atau sesudahnya.

Ada hal lain yang harus dipembetulan, iaitu penyelewengan yang terjadi pada Taurat. Taurat menyebutkan dalam Ishah kesepuluh bahawa peperangan di mana matahari ditahan untuk Yusya' terjadi setelah perang yang melibatkan penggelapan harta rampasan perang. Yang benar dan sesuai dengan hadis adalah bahawa keduanya terjadi dalam satu peperangan.

Di antara penyimpangan yang terjadi pada Taurat adalah bahawa Taurat menyebutkan Bani Israil menyimpan harta rampasan perang dalam perang Ariha di Baitur Rab, baik itu emas atau perak atau bejana kuningan atau besi, dan itu dengan perintah Allah kepada mereka. Harta yang digelapkan dibakar oleh Bani Israil bersama lelaki yang menggelapkannya beserta putra-putrinya, keledainya, kambingnya, tendanya dan seluruh hartanya. Adapun harta rampasan perang setelah itu, maka Ishah kedelapan poin 2 dalam Safar Yasyu’ menyebutkan bahawa Tuhan membolehkannya bagi mereka. Nashnya: "Hanya saja harta rampasan perangnya. Ternak-ternaknya ambillah ia untuk diri kalian." Poin 27 dalam Safar yang sama, "Akan tetapi ternak dan harta rampasan perang kota itu diambil oleh Bani Israil untuk diri mereka berdasarkan firman Tuhan yang diperintahkan kepada Yasyu'.”

Yang disebutkan di atas termasuk penyelewengan yang menimpa Taurat tentang harta rampasan yang tidak dihalalkan kepada umat sebelum kita. Api datang, maka ia memakan harta rampasan perang yang terdiri dari perabotan, pakaian, emas, dan perak sebagaimana hal ini ditetapkan oleh banyak dalil shahih. Salah satunya disebutkan oleh Rasulullah dalam hadis ini. Beliau s.a.w. memberitakan bahawa api yang turun dari langit menolak memakan harta rampasan perang jika terjadi penggelapan. Baru ketika penggelapan itu dibongkar dan diletakkan bersama harta rampasan lainnya, maka turunlah api yang membakarnya. Tidak benar jika yang membakarnya adalah Bani Israil. Kalaupun pelaku penggelapan harta rampasan perang boleh dibakar sebagai hukuman atasnya, maka bukanlah termasuk keadilan jika isterinya, anak-anaknya dan ternaknya pun ikut dibakar, seperti yang dituntutan oleh para penyeleweng Taurat.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS

1.      Peperangan yang dilakukan oleh Yusya' dengan diikuti oleh Bani Israil menunjukkan bahawa berperang telah diwajibkan atas umat-umat sebelum umat ini. Bukan khusus bagi kita saja. Allah telah menghukum Bani Israil dengan kesesatan selama empat puluh tahun manakala mereka menolak berperang melawan orang-orang yang sombong.

2.      Firman Allah ini menunjukkan bahawa para Nabi dalam jumlah yang besar telah berperang, "Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa." (QS. Ali Imran: 146). Firman Allah yang menunjukkan kewajiban berperang atas Bani Israil," Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, iaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, 'Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.' Nabi mereka menjawab, 'Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.' Mereka menjawab, 'Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?' Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang dzalim." (QS. Al-Baqarah: 246)

3.      Hadis ini membimbing pemimpin agar tidak menyerahkan tugas-tugas besar kepada orang-orang di mana hati mereka sibuk dengan perkara yang menghalangi mereka untuk menunaikannya.

4.      Pengendalian prajurit memerlukan ilmu tentang tabiat-tabiat jiwa dan pemilihan kualitas yang memungkinkannya untuk bersabar di medan perang, serta membuang unsur penyebab kekalahan pasukan sebagaimana yang dilakukan oleh Yusya'.

5.      Hadis ini mengandung ayat yang nyata dan mukjizat mengagumkan yang menunjukkan kudrat Allah dan dukungan-Nya kepada Rasul-Rasul-Nya, serta pertolongan-Nya kepada mereka dalam tugas-tugas yang dibebankan atas mereka. Di antaranya adalah menahan matahari dan memanjangkan siang, sehingga para pasukan bisa meraih kemenangan. Allah juga menunjukkan kabilah di mana penggelapan terjadi padanya, termasuk para pelaku penggelapan, sebagaimana telah disebutkan dalam hadis.

6.      Harta rampasan perang diharamkan atas umat-umat sebelum kita. Dan Allah memberikan kekhususan kepada umat ini dengan menghalalkannya bagi mereka.

7.      Dosa menggelapkan harta rampasan perang. Api tidak mau membakar harta rampasan di mana padanya terjadi penggelapan. Rasulullah telah menyampaikan bahawa seorang lelaki menggelapkan selimut, maka ia membakarnya di kuburnya. Orang yang menggelapkan harta rampasan perang, maka dia akan memikulnya di hari Kiamat.

8.      Pada Bani Israil terdapat orang-orang soleh yang berjihad fi sabilillah. Allah membantu dan memberi mereka kemenangan.

9.      Walaupun Yusya' telah membersihkan pasukannya dari unsur lemah di mana kekalahan mungkin terjadi melalui mereka, tetap saja tersisa orang-orang lemah iman pada pasukannya, iaitu orang-orang yang menggelapkan harta rampasan perang.


10.    Hadis ini membetulkan sebahagian penyimpangan dalam Taurat.

No comments:

Post a Comment