Tuesday, 15 March 2016

NABIYULLAH AYYUB, IMAM ORANG-ORANG SABAR & NABI YANG MEMBAKAR DESA SEMUT

KISAH KEDELAPAN BELAS
NABIYULLAH AYYUB, IMAM ORANG-ORANG SABAR

Ayyub adalah hamba soleh dan teladan kesabaran. Kisahnya diceritakan untuk menghibur orang-orang yang ditimpa musibah, baik pada diri mereka, keluarga dan harta. Dia dulu sihat lalu sakit, dulu kaya lalu miskin, pemilik keluarga dan anak lalu Allah mengambil keluarga dan anaknya. Dia menjalani semua itu dengan kesabaran yang baik, tidak mengaduh, dan tidak meratap. Ujiannya berlangsung lama. Semangatnya tidak berkurang kerana ujian yang panjang itu. Kemudahan datang dari Allah ketika Ayyub memanggil-Nya dan berdoa kepada-Nya. Allah mengembalikan kesihatannya, mengembalikan harta dan anaknya dua kali lipat dari yang sebelumnya. Kisahnya menjadi cerita yang menghiasi bibir sesudahnya. Kisah seorang imam orang-orang yang sabar, Ayyub Nabiyullah.

NASH HADIS

Dari Anas bin Malik bahawa Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Nabiyullah Ayyub ditimpa musibah selama delapan belas tahun. Orang dekat dan orang jauh menolaknya, kecuali dua orang lelaki saudaranya yang selalu menjenguknya setiap pagi dan petang hari. Suatu hari salah seorang dari keduanya berkata kepada temannya, 'Ketahuilah, demi Allah, Ayyub telah melakukan sebuah dosa yang tidak dilakukan oleh seorang manusia di dunia ini.’ Temannya menanggapi, Apa itu?’ Dia menjawab, ’Sudah delapan belas tahun Allah tidak merahmatinya dan tidak mengangkat ujian yang menimpanya.’

Manakala keduanya pergi kepada Ayyub, salah seorang dari keduanya tidak tahan dan dia mengatakan hal itu kepada Ayyub. Maka Ayyub berkata, ’Aku tidak mengerti apa yang kalian berdua katakan. Hanya saja, Allah mengetahui bahawa aku pernah melewati dua orang lelaki yang bersengketa dan keduanya menyebut nama Allah, lalu aku pulang ke rumah dan bersedekah untuk keduanya kerana aku kuatir nama Allah disebut kecuali dalam kebenaran.’ Nabi s.a.w. bersabda, "Ayyub pergi buang hajat. Jika dia buang hajat, isterinya menuntunnya sampai di tempat buang hajat. Suatu hari Ayyub terlambat dari isterinya dan Allah mewahyukan kepada Ayyub, ”

Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. " (QS. Shad: 42) isterinya menunggunya cukup lama. Dia melihat dan memperhatikannya sedang berjalan ke arahnya, sementara Allah telah menghilangkan penyakitnya dan dia lebih tampan dari sebelumnya. Ketika isterinya melihatnya, dia berkata, ’Semoga Allah memberimu berkah, apakah kamu melihat Nabiyullah, orang yang sedang diuji? Demi Allah, kamu sangat mirip dengannya jika dia itu dalam keadaan sihat.’ Ayyub berkata, ’Sesungguhnya akulah Ayyub.’ Ayyub memiliki dua tempat untuk mengeringkan hasil bumi, yang pertama untuk gandum dan yang kedua untuk barli, lalu Allah mengirim dua potong awan. Ketika awan yang pertama tiba di atas tempat pengeringan gandum, ia memuntahkan emas sampai ia melimpah, dan awan yang lainnya menumpahkan di tempat pengeringan barli sampai melimpah pula."

PENJELASAN HADIS

Ayyub adalah salah seorang Nabi Allah yang mulia. Allah mewahyukan kepada Ayyub, "Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi sesudahnya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman." (QS. An-Nisa:163)

Ayyub termasuk keturunan Ibrahim. Firman Allah, "Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh), iaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun." (QS. Al-An'am: 84)

Allah telah menceritakan kisahnya di dua tempat dalam kitab-Nya:

Pertama, dalam surat Al-Anbiya. Firman Allah, "Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya,'(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.' Maka kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. Al-Anbiya: 83-84)

Kedua, dalam surat Shad. Firman-Nya, "Dan ingatlah akan hamba Kami, Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya, 'Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.' (Allah berfirman), 'Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.' Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)." (QS.Shad: 41-44)

Dalam Sunnah Rasulullah terdapat keterangan tentangkisah Ayyub yang lebih jelas dan terperinci. Dari seluruh keterangan dalam Al-Qur'an dan hadis dapat diambil kesimpulan bahawa hidup Ayyub penuh dengan kenikmatan sebelum memperoleh ujian, kehidupannya makmur. Allah menganugerahkan harta, keluarga dan anak kepadanya, kemudian Allah berkehendak untuk mengujinya. Maka Dia mengambil harta dan anaknya, badannya pun berpenyakit. Orang-orang yang dikumpulkan oleh nikmat di sekelilingnya mulai menjauhinya. Orang dekat dan orang jauh menghindarinya. Yang masih baik kepadanya hanyalah isterinya dan dua orang dari sahabatnya yang mulia. Kedua orang ini sering mengunjunginya dan Ayyub terhibur kerananya. Salah seorang dari keduanya memikirkan keadaan Ayyub yang telah diuji sekian lama. Ayyub menanggung itu selama delapan belas tahun dan Allah belum mengangkat apa yang menimpanya. Berlaku di pikiran orang ini bahawa cubaan Ayyub itu mungkin dikeranakan dosa besar yang pernah diperbuat oleh Ayyub. Orang ini mengatakan apa yang ada di pikirannya kepada temannya, dan temannya ini pun tidak kuasa menyimpan apa yang dikatakan oleh rekannya. Dia mengatakan hal itu kepada Ayyub. Hal ini membuat Ayyub sangat bersedih, maka dia menceritakan keadaannya secara terbuka dan menepis anggapan tersebut. Pada waktu Ayyub sihat dan bugar, dia melihat dua orang saling bertikai dan keduanya menyebut nama Allah. Ayyub pulang ke rumahnya dan bersedekah atas nama keduanya, kerana dia kuatir nama Allah disebut kecuali dalam kebenaran.

Di sanalah Ayyub menghadap kepada Tuhannya dengan doa memohon dari-Nya agar ujiannya diangkat, "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (QS. Al-Anbiya: 83). "Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan." (QS.Shad: 41)

Allah menjawab doanya dan mengangkat ujian yang menimpanya. Allah Maha Berkuasa atas segala hal. Jika Dia menghendaki, sesuatu pastilah terjadi. Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mampu menghalangi-Nya. Sudah menjadi kebiasaan Ayyub jika dia pergi buang hajat, dia diantar dan dituntun oleh isterinya kerana badannya yang lemah. Jika Ayyub telah tiba di tempat yang dituju, isterinya membiarkannya menunaikan hajatnya. Setelah itu dia kembali menuntun suaminya pulang ke tempat tinggalnya. Pada hari ketika Ayyub berdoa kepada Allah, dia terlambat kembali kepada isterinya yang sedang menunggunya. Allah mewahyukan kepada Ayyub agar menjejakkan kakinya yang lemah ke tanah, maka dari tempat yang dijejaknya itu memancarlah air. Allah meminta Ayyub agar minum air itu dan mandi darinya. Air itu menghilangkan penyakit di tubuhnya, lahir dan batin. Ayyub kembali sihat dan bersemangat pada saat itu juga. Kesihatan dan kekuatannya pulih seperti ia tidak pernah sakit.

Ayyub menemui isterinya dengan penuh semangat dan gairah seperti sebelum dia diserang penyakit. Ketika isterinya melihatnya, dia tidak mengenalinya walaupun dia melihatnya seperti suaminya yang dahulu sihat wal’afiat. Dia bertanya kepadanya tentang suaminya, seorang Nabi yang sakit-sakitan. Dia menyebutkan apa yang pernah dilihatnya dari suaminya pada saat suaminya masih sihat dan kuat. Dia sama sekali tidak menduga bahawa suaminya bisa sihat dan sembuh dari penyakitnya dalam waktu yang sesingkat itu, iaitu sewaktu dia terlambat untuk kembali kepadanya. Kebahagiaannya begitu besar manakala dia melihat nikmat Allah kepada suaminya dalam bentuk kembalinya kesihatan dan kekuatan kepadanya.

Sebagaimana Allah mengembalikan kesihatan dan kekuatannya, Allah juga mengembalikan hartanya yang hilang sebanyak dua kali lipat, serta menganugerahkan anak-anak kepadanya dua kali lipat pula. Allah mengirim dua awan yang tidak membawa hujan, tetapi membawaemas dan perak. Ayyub memiliki dua tempat penyimpanan hasil bumi. Yang pertama untuk gandum dan yang lain untuk barli. Awan pertama menumpahkan emas di tempat penyimpanan gandum dan awan kedua menumpahkan perak di tempat penyimpanan barli.

Pada waktu sakit Ayyub pernah marah kepada isterinya. Dia bernadzar, jika dia sembuh, dia akan memukulnya seratus kali. Setelah sembuh Ayyub merasa berat memukul isterinya yang selama dia sakit begitu sabar merawatnya, tetapi dia juga merasa berat kerana tidak menunaikan nadzar kepada Tuhannya. Maka Allah memberikan jalan keluar dan kemudahan. Dia memerintahkan Ayyub agar mengambil seikat batang gandum atau barli dan memukul isterinya dengan itu satu kali pukulan, dengan itu Ayyub telah menunaikan nadzarnya dan tetap tidak menyakiti isterinya. Allah berfirman untuk Ayyub, "Dan ambillah dengan tanganmu seikat rumput, maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. " (QS. Shad: 44)

Imam Ahmad berpendapat bahawa dibolehkan memukul orang yang melakukan dosa yang terancam hukuman had, seperti orang berzina yang belum muhshan (menikah) dan orang yang melakukan dosa qadzaf (menuduh) dengan pukulan seperti pukulan Ayyub, jika yang bersangkutan sakit sehingga ditakutkan akan celaka setelah dia dipukul. Rasulullah telah memerintahkan para sahabat untuk memukul seorang lelaki yang sakit yang telah berzina dengan seorang wanita dengan sebuah janjang kurma yang terdiri dari seratus cabang sebanyak satu kali pukulan.
31
Ayyub adalah seorang yang lincah, dermawan dan lucu dalam kejujuran. Rasulullah telah memberitakan kepada kita di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Nasa’i dari Abu Hurairah yang berkata bahawa Rasulullah bersabda, "Manakala Ayyub sedang mandi telanjang, sekelompok belalang dari emas jatuh kepadanya, maka Ayyub memunguti dan menyimpannya di bajunya. Maka Tuhannya memanggilnya, 'Wahai Ayyub, bukankah Aku telah membuatmu kaya seperti yang kamu lihat?' Ayyub menjawab, 'Benar, ya Rabbi, akan tetapi aku selalu memerlukan keberkahan-Mu."

Mungkin kamu membayangkan keadaan Ayyub ketika dia melompat dalam keadaan telanjang, mengumpulkan dan memunguti belalang emas, lalu meletakkannya di bajunya. Maka Tuhannya memanggilnya, "Bukankah Aku telah membuatmu kaya sebagaimana kamu lihat?" (Yakni, melalui dua awan yang menuangkan emas dan perak di tempat penyimpanan hasil buminya). Ayyub menjawab, "Siapa yang tidak memerlukan keberkahan-Mu, ya Rabbi?"

VERSI TAURAT

Barangsiapa membaca kisah Ayyub di dalam Al-Qur'an dan hadis yang shahih lalu membaca kisah ini dalam Taurat, maka dia akan meyakini bahawa salah satu sasaran pemaparan VERSI dalam Al-Qur'an dan penjelasan terperinci-terperincinya di dalam hadis adalah untuk membongkar penyelewengan kisah ini menurut versi Bani Israil dan membebaskan Nabiyullah Ayyub dari tuduhan palsu dan dusta oleh orang-orang yang menyeleweng lagi dzalim. tuntutan pertama yang harus diluruskan dan dipembetulan adalah tuntutan para penulis kisahnya dalam Taurat bahwa Ayyub hanyalah seorang lelaki soleh lagi lurus.

1.      Dia bukan seorang Nabi. tuntutan kedua yang harus diluruskan dan dipembetulan adalah apa yang dikatakan oleh Taurat bahawa Ayyub marah kepada Tuhannya ketika menjalani cubaan. Kemarahan Ayyub kepada Tuhannya ini dipaparkan lewat perbincangan panjang antara Ayyub dan ketiga orang temannya. Walau Ayyub dengan imannya dan kepercayaannya kepada Tuhannya, dia tetap berbicara panjang kepada teman-temannya untuk menampakkan penderitaannya kerana cubaan dari Allah, walaupun dia tetap baik, lurus dan melakukan kebaikan.

2.      Dialog yang terjadi adalah dialog yang panjang. Melalui dialog ini para pengarangnya bermaksud untuk mengatasi masalah akidah, iaitu sebab-sebab Allah menurunkan ujian-Nya kepada orang soleh dan hamba-hamba-Nya yang bertaqwa kepada-Nya dan teguh di atas perintah-Nya. Dialog itu mengangkat masalah ini dengan bahasa filsafat dan bahasa syair. Oleh kerana itu, orang-orang Yahudi menganggap bahawa Safar Ayyub adalah salah satu Safar hikmah.

3.      Aneh jika Ayyub dalam Taurat adalah seorang pemarah dan pengeluh yang jauh dari pemahaman yang lurus, menolak berserah diri terhadap qadha dan qadar, dan bahawasanya teman-temannya adalah orang-orang yang mengerti dan mengetahui sehingga berusaha sepenuh daya guna untuk memberi pengertian, pelajaran dan mengembalikannya ke jalan yang benar. Kedustaan semua itu ditunjukkan oleh hadis yang disampaikan oleh Rasulullah tentang kesabaran Ayyub dan keteguhannya untuk menerima apa yang menimpanya tanpa berkeluh kesah, sampai-sampai salah seorang temannya menduga sesuatu pada diri Ayyub. Dia melihat lamanya ujian yang menimpa Ayyub sebagai

5.      Kemampuan Allah untuk menghapus ujian dan menyembuhkan orang sakit hanya dalam sekejap, sebagaimana Allah mengembalikan kekuatan dan kesihatan kepada Ayyub.

6.      Kudrat Allah memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya dengan cara yang tidak umum. Ayyub mendapatkan harta yang banyak dalam bentuk emas dan perak yang dibawa oleh dua awan dan belalang emas yang jatuh kepadanya.

7.      Allah memberi kemudahan dan jalan keluar bagi Ayyub dalam nadzarnya. Dia bisa memenuhi nadzarnya tanpa merugikan isterinya. Ibnul Qayyim menyatakan bahawa dalam syariat mereka tidak ada kaffarat (denda). Jika dalam syariat mereka terdapat kaffarat, nescaya Ayyub akan melakukannya tanpa perlu memukul isterinya. Sumpah bagi mereka adalah sesuatu yang wajib, seperti hukuman had. Dan yang pasti adalah bahawa jika pelaku kesalahan yang mengakibatkan hukuman mempunyai alasan, maka hukumannya diringankan darinya dan isteri Ayyub memiliki alasan. Dia tidak mengetahui bahawa yang berbicara dengannya adalah syaitan. Dia hanya bermaksud untuk berbuat baik, maka dia tidak berhak untuk dihukum. Allah memberikan fatwa kepada Ayyub agar memperlakukannya sebagai orang yang berudzur, ditambah kasih sayang dan kebaikannya kepada Ayyub. Maka Allah mengumpulkan untuknya antara memenuhi sumpah dan berlemah lembut kepada isterinya yang baik yang mempunyai alasan dan tidak berhak untuk dihukum.

Hadis ini membebaskan Ayyub dari kebohongan-kebohongan yang dinisbatkan oleh orang-orang Yahudi kepada Ayyub. Hadis ini meluruskan dan membetulkan sejarah Ayyub yang mereka ubah dan selewengkan.

KISAH KESEMBILAN BELAS
NABI YANG MEMBAKAR DESA SEMUT

Merosak tidak disukai oleh Allah, bahkan merosak pohon-pohon dan haiwan-haiwan juga tidak boleh. Oleh kerana itu, Allah melarang berbuat kerosakan di muka bumi. Di antara kerosakan itu adalah kerosakan terhadap tanaman dan binatang. Pada hari Kiamat seorang hamba akan ditanya tentang burung kecil yang dibunuhnya tanpa alasan yang benar.

Termasuk dalam hal ini adalah apa yang disampaikan oleh Rasulullah tentang teguran Allah kepada salah seorang Nabi-Nya. Para Nabi memiliki tempat tersendiri di sisi Allah, tetapi ini tidak menghalangi untuk meluruskan mereka jika tindak tanduk mereka keliru walaupun itu remeh. Benar, Allah menegur Nabi atas tindakannya yang membakar sebuah desa semut, hanya kerana seekor semut menggigitnya.

NASH HADIS

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah bersabda, "Seorang Nabi singgah dibawa pohon, dia digigit oleh seekor semut. Dia memerintahkan agar barang bawaannya dijauhkan dari bawah pohon itu.

Lalu dia memerintahkan agar rumah semut itu dibakar Maka Allah mewahyukan kepadanya, 'Mengapa tidak hanya satu ekor semut saja?' Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah, "bahawasanya seekor semut menggigit salah seorang Nabi, maka dia memerintahkan agar desa semut dibakar. Allah pun mewahyukan kepadanya, 'Hanya kerana kamu digigit oleh seekor semut lalu kamu membinasakan sebuah umat yang bertasbih.'

PENJELASAN HADIS

Rasulullah menyampaikan kepada kita bahawa salah seorang Nabi Allah singgah di bawah pohon. Sepertinya dia berteduh dari panas matahari untuk beristirahat dari lelahnya perjalanan. Di dekat dia berteduh terdapat sebuah desa semut. Mungkin singgahnya Nabi ini dengan teman-temannya di bumi semut mengganggu mereka. Biasanya semut melawan orang yang mengganggunya dan merosak ketenangannya. Seekor semut datang dan menggigit Nabi itu. Seorang Nabi adalah manusia. Dia pun marah seperti mereka. Kadang-kadang dia melakukan tindakan spontan yang membuatnya menyesal setelah itu dan dia disalahkan kerananya. Di antaranya adalah tindakan Nabi ini. Dia marah kepada seekor semut beserta teman-temannya. Dia bertekad menghukum seluruh desa semut. Dia memerintahkan para pengikutnya agar menjauhkan barangnya dari bawah pohon itu, kemudian dia menyulut api di desa semut. Maka semut-semut yang sedang berjalan-jalan di desanya dan di sekelilingnya terbakar dan panas api itu sampai kepada semut-semut yang berada di lubangnya di dalam tanah.

Keadilan menuntut orang yang tidak bersalah, tidak boleh dihukum kerana kesalahan orang lain. Yang menggigit Nabi ini hanyalah seekor semut. Jika memang mesti dihukum, maka semestinya yang dihukum hanyalah semut tersebut bukan yang lain. Nabi kita mengajarkan kepada kita bahawa kita berhak melawan orang atau haiwan yang menyerang kita, walaupun haiwan itu adalah haiwan jinak. Semut ini menyerang dan menggigit. Jika orang yang digigitnya menghukumnya, maka dia tidak disalahkan. Adapun menghukum semua semut yang ada di desa itu dan membakar mereka dengan api, ini bukanlah suatu keadilan. Semut adalah umat ciptaan Allah. Mereka bertasbih dan mensucikan Allah seperti haiwan-haiwan yang lain.

Manusia tidak boleh menyerangnya, kecuali jika mereka menyakitinya. Oleh kerana itu, Allah menyalahkan Nabi itu dan mencelanya kerana dia menghukum melampaui batas. Dia meghukum semut yang tidak bersalah kerana kesalahan seekor semut. Dia membunuh sebuah umat yang bertasbih kepada Allah. Dan Allah telah berfirman kepadanya untuk menegurnya, "Mengapa tidak hanya satu semut saja? Hanya kerana kamu digigit oleh seekor semut, kamu membinasakan umat yang bertasbih kepada Allah."

Orang yang terdidik untuk merasa bersalah jika membunuh seekor semut, dia tidak mungkin setelah itu membunuh manusia tanpa salah dan tanpa alasan yang benar. Dia akan menjadi contoh mulia yang menjaga nyawa hamba-hamba Allah sebagaimana dia menjaga tanaman dan haiwan-haiwan.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS

1.      Tidak boleh membunuh semut, sebagaimana tidak boleh membunuh binatang lain, kecuali binatang yang menyerang dan mengganggu. Dalam sebuah hadis terdapat larangan membunuh semut, tebuan, hudhud, dan shurad.

      Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad shahih di atas syarat Bukhari Muslim. Dikecualikan dari larangan membunuh binatang adalah binatang fawasiq yang berjumlah lima, baik dibunuh di daerah halal maupun di daerah haram. Fawasiq yang berjumlah lima ini sebagaimana dalam hadis riwayat Bukhari dalam Shahih-nya adalah tikus, kalajengking, burung gagak, rajawali, dan anjing penggigit. Selain kelima haiwan fawasiq ini Rasulullah juga memerintahkan membunuh cicak. Beliau menyatakan bahawa membunuhnya adalah berpahala.

      Shurad adalah burung berkepala besar dan berparuh besar, perutnya putih, punggungnya hijau, memangsa serangga dan burung kecil. [pent]

2.      Begitu juga beliau memerintahkan membunuh ular, kecuali ular rumah yang tidak dibunuh hingga diperingatkan tiga kali; jika setelah itu masih terlihat di rumah, maka bunuhlah. Dan dikecualikan dari ini adalah dua macam ular, iaitu ular berekor pendek dan ular dengan dua garis putih di punggungnya. Keduanya dibunuh secara mutlak walaupun tinggal di rumah, kerana keduanya bisa menyebabkan keguguran dan kebutaan.

3.      Membakar makhluk hidup tidak dibolehkan dalam syariat kita. Nabi menjelaskan alasan larangan ini, iaitu bahawa yang berhak mengadzab dengan api hanyalah pemilik api. Dan ini mungkin dibolehkan di alam syariat sebelum kita, kerananya Nabi ini membakar desa semut.

4.      Semut bertasbih kepada Allah sebagaimana dinyatakan dalam hadis. Allah telah memberitakan bahawa segala sesuatu bertasbih dengan memuji Allah, "Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka." (QS. Al-Isra: 44)

5.      Hadis ini menyampaikan bahawa semut adalah sebuah umat. Allah telah memberitakan bahawa makhluk-makhluk, burung-burung dan haiwan-haiwan, semuanya adalah umat seperti kita. "Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat-umat juga seperti kamu." (QS. Al-Anam: 38)


6.      Kajian-kajian modern telah sampai pada hakikat ini melalui pengamatan, penelitian dan pemikiran.

No comments:

Post a Comment