KISAH KEDELAPAN BELAS
NABIYULLAH AYYUB, IMAM ORANG-ORANG SABAR
Ayyub
adalah hamba soleh dan teladan kesabaran. Kisahnya diceritakan untuk menghibur
orang-orang yang ditimpa musibah, baik pada diri mereka, keluarga dan harta.
Dia dulu sihat lalu sakit, dulu kaya lalu miskin, pemilik keluarga dan anak
lalu Allah mengambil keluarga dan anaknya. Dia menjalani semua itu dengan
kesabaran yang baik, tidak mengaduh, dan tidak meratap. Ujiannya berlangsung
lama. Semangatnya tidak berkurang kerana ujian yang panjang itu. Kemudahan
datang dari Allah ketika Ayyub memanggil-Nya dan berdoa kepada-Nya. Allah
mengembalikan kesihatannya, mengembalikan harta dan anaknya dua kali lipat dari
yang sebelumnya. Kisahnya menjadi cerita yang menghiasi bibir sesudahnya. Kisah
seorang imam orang-orang yang sabar, Ayyub Nabiyullah.
NASH HADIS
Dari
Anas bin Malik bahawa Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Nabiyullah Ayyub
ditimpa musibah selama delapan belas tahun. Orang dekat dan orang jauh
menolaknya, kecuali dua orang lelaki saudaranya yang selalu menjenguknya setiap
pagi dan petang hari. Suatu hari salah seorang dari keduanya berkata kepada
temannya, 'Ketahuilah, demi Allah, Ayyub telah melakukan sebuah dosa yang tidak
dilakukan oleh seorang manusia di dunia ini.’ Temannya menanggapi, Apa itu?’
Dia menjawab, ’Sudah delapan belas tahun Allah tidak merahmatinya dan tidak
mengangkat ujian yang menimpanya.’
Manakala
keduanya pergi kepada Ayyub, salah seorang dari keduanya tidak tahan dan dia
mengatakan hal itu kepada Ayyub. Maka Ayyub berkata, ’Aku tidak mengerti apa
yang kalian berdua katakan. Hanya saja, Allah mengetahui bahawa aku pernah
melewati dua orang lelaki yang bersengketa dan keduanya menyebut nama Allah,
lalu aku pulang ke rumah dan bersedekah untuk keduanya kerana aku kuatir nama
Allah disebut kecuali dalam kebenaran.’ Nabi s.a.w. bersabda, "Ayyub pergi
buang hajat. Jika dia buang hajat, isterinya menuntunnya sampai di tempat buang
hajat. Suatu hari Ayyub terlambat dari isterinya dan Allah mewahyukan kepada
Ayyub, ”
Hantamkanlah
kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. " (QS. Shad:
42) isterinya menunggunya cukup lama. Dia melihat dan memperhatikannya sedang
berjalan ke arahnya, sementara Allah telah menghilangkan penyakitnya dan dia
lebih tampan dari sebelumnya. Ketika isterinya melihatnya, dia berkata, ’Semoga
Allah memberimu berkah, apakah kamu melihat Nabiyullah, orang yang sedang
diuji? Demi Allah, kamu sangat mirip dengannya jika dia itu dalam keadaan
sihat.’ Ayyub berkata, ’Sesungguhnya akulah Ayyub.’ Ayyub memiliki dua tempat
untuk mengeringkan hasil bumi, yang pertama untuk gandum dan yang kedua untuk
barli, lalu Allah mengirim dua potong awan. Ketika awan yang pertama tiba di
atas tempat pengeringan gandum, ia memuntahkan emas sampai ia melimpah, dan
awan yang lainnya menumpahkan di tempat pengeringan barli sampai melimpah pula."
PENJELASAN
HADIS
Ayyub
adalah salah seorang Nabi Allah yang mulia. Allah mewahyukan kepada Ayyub, "Sesungguhnya Kami telah memberikan
wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi
sesudahnya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail,
Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman." (QS.
An-Nisa:163)
Ayyub
termasuk keturunan Ibrahim. Firman Allah, "Dan
Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya'qub kepadanya. Kepada keduanya
masing-masing telah Kami beri petunjuk, dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah
Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh), iaitu Daud,
Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun." (QS. Al-An'am: 84)
Allah
telah menceritakan kisahnya di dua tempat dalam kitab-Nya:
Pertama,
dalam surat Al-Anbiya. Firman Allah, "Dan
(ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya,'(Ya Tuhanku), sesungguhnya
aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di
antara semua penyayang.' Maka kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu kami
lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya,
dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi kami
dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS.
Al-Anbiya: 83-84)
Kedua,
dalam surat Shad. Firman-Nya, "Dan
ingatlah akan hamba Kami, Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya, 'Sesungguhnya aku
diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.' (Allah berfirman),
'Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.' Dan
Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami
tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan
pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu
seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah.
Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik
hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)." (QS.Shad: 41-44)
Dalam
Sunnah Rasulullah terdapat keterangan tentangkisah Ayyub yang lebih jelas dan
terperinci. Dari seluruh keterangan dalam Al-Qur'an dan hadis dapat diambil
kesimpulan bahawa hidup Ayyub penuh dengan kenikmatan sebelum memperoleh ujian,
kehidupannya makmur. Allah menganugerahkan harta, keluarga dan anak kepadanya,
kemudian Allah berkehendak untuk mengujinya. Maka Dia mengambil harta dan
anaknya, badannya pun berpenyakit. Orang-orang yang dikumpulkan oleh nikmat di
sekelilingnya mulai menjauhinya. Orang dekat dan orang jauh menghindarinya.
Yang masih baik kepadanya hanyalah isterinya dan dua orang dari sahabatnya yang
mulia. Kedua orang ini sering mengunjunginya dan Ayyub terhibur kerananya.
Salah seorang dari keduanya memikirkan keadaan Ayyub yang telah diuji sekian lama.
Ayyub menanggung itu selama delapan belas tahun dan Allah belum mengangkat apa
yang menimpanya. Berlaku di pikiran orang ini bahawa cubaan Ayyub itu mungkin
dikeranakan dosa besar yang pernah diperbuat oleh Ayyub. Orang ini mengatakan
apa yang ada di pikirannya kepada temannya, dan temannya ini pun tidak kuasa
menyimpan apa yang dikatakan oleh rekannya. Dia mengatakan hal itu kepada
Ayyub. Hal ini membuat Ayyub sangat bersedih, maka dia menceritakan keadaannya
secara terbuka dan menepis anggapan tersebut. Pada waktu Ayyub sihat dan bugar,
dia melihat dua orang saling bertikai dan keduanya menyebut nama Allah. Ayyub
pulang ke rumahnya dan bersedekah atas nama keduanya, kerana dia kuatir nama
Allah disebut kecuali dalam kebenaran.
Di
sanalah Ayyub menghadap kepada Tuhannya dengan doa memohon dari-Nya agar
ujiannya diangkat, "(Ya Tuhanku),
sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha
Penyayang di antara semua penyayang." (QS. Al-Anbiya: 83). "Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan
kepayahan dan siksaan." (QS.Shad: 41)
Allah
menjawab doanya dan mengangkat ujian yang menimpanya. Allah Maha Berkuasa atas
segala hal. Jika Dia menghendaki, sesuatu pastilah terjadi. Tidak ada sesuatu
pun di langit dan di bumi yang mampu menghalangi-Nya. Sudah menjadi kebiasaan
Ayyub jika dia pergi buang hajat, dia diantar dan dituntun oleh isterinya
kerana badannya yang lemah. Jika Ayyub telah tiba di tempat yang dituju,
isterinya membiarkannya menunaikan hajatnya. Setelah itu dia kembali menuntun suaminya
pulang ke tempat tinggalnya. Pada hari ketika Ayyub berdoa kepada Allah, dia
terlambat kembali kepada isterinya yang sedang menunggunya. Allah mewahyukan
kepada Ayyub agar menjejakkan kakinya yang lemah ke tanah, maka dari tempat
yang dijejaknya itu memancarlah air. Allah meminta Ayyub agar minum air itu dan
mandi darinya. Air itu menghilangkan penyakit di tubuhnya, lahir dan batin.
Ayyub kembali sihat dan bersemangat pada saat itu juga. Kesihatan dan
kekuatannya pulih seperti ia tidak pernah sakit.
Ayyub
menemui isterinya dengan penuh semangat dan gairah seperti sebelum dia diserang
penyakit. Ketika isterinya melihatnya, dia tidak mengenalinya walaupun dia
melihatnya seperti suaminya yang dahulu sihat wal’afiat. Dia bertanya kepadanya
tentang suaminya, seorang Nabi yang sakit-sakitan. Dia menyebutkan apa yang
pernah dilihatnya dari suaminya pada saat suaminya masih sihat dan kuat. Dia
sama sekali tidak menduga bahawa suaminya bisa sihat dan sembuh dari
penyakitnya dalam waktu yang sesingkat itu, iaitu sewaktu dia terlambat untuk
kembali kepadanya. Kebahagiaannya begitu besar manakala dia melihat nikmat
Allah kepada suaminya dalam bentuk kembalinya kesihatan dan kekuatan kepadanya.
Sebagaimana
Allah mengembalikan kesihatan dan kekuatannya, Allah juga mengembalikan
hartanya yang hilang sebanyak dua kali lipat, serta menganugerahkan anak-anak
kepadanya dua kali lipat pula. Allah mengirim dua awan yang tidak membawa
hujan, tetapi membawaemas dan perak. Ayyub memiliki dua tempat penyimpanan
hasil bumi. Yang pertama untuk gandum dan yang lain untuk barli. Awan pertama
menumpahkan emas di tempat penyimpanan gandum dan awan kedua menumpahkan perak
di tempat penyimpanan barli.
Pada
waktu sakit Ayyub pernah marah kepada isterinya. Dia bernadzar, jika dia sembuh,
dia akan memukulnya seratus kali. Setelah sembuh Ayyub merasa berat memukul
isterinya yang selama dia sakit begitu sabar merawatnya, tetapi dia juga merasa
berat kerana tidak menunaikan nadzar kepada Tuhannya. Maka Allah memberikan
jalan keluar dan kemudahan. Dia memerintahkan Ayyub agar mengambil seikat
batang gandum atau barli dan memukul isterinya dengan itu satu kali pukulan,
dengan itu Ayyub telah menunaikan nadzarnya dan tetap tidak menyakiti
isterinya. Allah berfirman untuk Ayyub, "Dan
ambillah dengan tanganmu seikat rumput, maka pukullah dengan itu dan janganlah
kamu melanggar sumpah. " (QS. Shad: 44)
Imam
Ahmad berpendapat bahawa dibolehkan memukul orang yang melakukan dosa yang
terancam hukuman had, seperti orang berzina yang belum muhshan (menikah) dan
orang yang melakukan dosa qadzaf (menuduh) dengan pukulan seperti pukulan
Ayyub, jika yang bersangkutan sakit sehingga ditakutkan akan celaka setelah dia
dipukul. Rasulullah telah memerintahkan para sahabat untuk memukul seorang
lelaki yang sakit yang telah berzina dengan seorang wanita dengan sebuah
janjang kurma yang terdiri dari seratus cabang sebanyak satu kali pukulan.
31
Ayyub
adalah seorang yang lincah, dermawan dan lucu dalam kejujuran. Rasulullah telah
memberitakan kepada kita di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan
Nasa’i dari Abu Hurairah yang berkata bahawa Rasulullah bersabda,
"Manakala Ayyub sedang mandi telanjang, sekelompok belalang dari emas
jatuh kepadanya, maka Ayyub memunguti dan menyimpannya di bajunya. Maka Tuhannya
memanggilnya, 'Wahai Ayyub, bukankah Aku telah membuatmu kaya seperti yang kamu
lihat?' Ayyub menjawab, 'Benar, ya Rabbi, akan tetapi aku selalu memerlukan
keberkahan-Mu."
Mungkin
kamu membayangkan keadaan Ayyub ketika dia melompat dalam keadaan telanjang,
mengumpulkan dan memunguti belalang emas, lalu meletakkannya di bajunya. Maka
Tuhannya memanggilnya, "Bukankah Aku telah membuatmu kaya sebagaimana kamu
lihat?" (Yakni, melalui dua awan yang menuangkan emas dan perak di tempat
penyimpanan hasil buminya). Ayyub menjawab, "Siapa yang tidak memerlukan
keberkahan-Mu, ya Rabbi?"
VERSI TAURAT
Barangsiapa
membaca kisah Ayyub di dalam Al-Qur'an dan hadis yang shahih lalu membaca kisah
ini dalam Taurat, maka dia akan meyakini bahawa salah satu sasaran pemaparan VERSI
dalam Al-Qur'an dan penjelasan terperinci-terperincinya di dalam hadis adalah
untuk membongkar penyelewengan kisah ini menurut versi Bani Israil dan
membebaskan Nabiyullah Ayyub dari tuduhan palsu dan dusta oleh orang-orang yang
menyeleweng lagi dzalim. tuntutan pertama yang harus diluruskan dan
dipembetulan adalah tuntutan para penulis kisahnya dalam Taurat bahwa Ayyub
hanyalah seorang lelaki soleh lagi lurus.
1. Dia bukan seorang Nabi. tuntutan kedua
yang harus diluruskan dan dipembetulan adalah apa yang dikatakan oleh Taurat
bahawa Ayyub marah kepada Tuhannya ketika menjalani cubaan. Kemarahan Ayyub
kepada Tuhannya ini dipaparkan lewat perbincangan panjang antara Ayyub dan
ketiga orang temannya. Walau Ayyub dengan imannya dan kepercayaannya kepada Tuhannya,
dia tetap berbicara panjang kepada teman-temannya untuk menampakkan
penderitaannya kerana cubaan dari Allah, walaupun dia tetap baik, lurus dan
melakukan kebaikan.
2. Dialog yang terjadi adalah dialog yang
panjang. Melalui dialog ini para pengarangnya bermaksud untuk mengatasi masalah
akidah, iaitu sebab-sebab Allah menurunkan ujian-Nya kepada orang soleh dan
hamba-hamba-Nya yang bertaqwa kepada-Nya dan teguh di atas perintah-Nya. Dialog
itu mengangkat masalah ini dengan bahasa filsafat dan bahasa syair. Oleh kerana
itu, orang-orang Yahudi menganggap bahawa Safar Ayyub adalah salah satu Safar
hikmah.
3. Aneh jika Ayyub dalam Taurat adalah
seorang pemarah dan pengeluh yang jauh dari pemahaman yang lurus, menolak
berserah diri terhadap qadha dan qadar, dan bahawasanya teman-temannya adalah
orang-orang yang mengerti dan mengetahui sehingga berusaha sepenuh daya guna
untuk memberi pengertian, pelajaran dan mengembalikannya ke jalan yang benar.
Kedustaan semua itu ditunjukkan oleh hadis yang disampaikan oleh Rasulullah
tentang kesabaran Ayyub dan keteguhannya untuk menerima apa yang menimpanya
tanpa berkeluh kesah, sampai-sampai salah seorang temannya menduga sesuatu pada
diri Ayyub. Dia melihat lamanya ujian yang menimpa Ayyub sebagai
5.
Kemampuan Allah untuk menghapus ujian
dan menyembuhkan orang sakit hanya dalam sekejap, sebagaimana Allah
mengembalikan kekuatan dan kesihatan kepada Ayyub.
6.
Kudrat Allah memberi rezeki kepada
hamba-hamba-Nya dengan cara yang tidak umum. Ayyub mendapatkan harta yang
banyak dalam bentuk emas dan perak yang dibawa oleh dua awan dan belalang emas
yang jatuh kepadanya.
7.
Allah memberi kemudahan dan jalan
keluar bagi Ayyub dalam nadzarnya. Dia bisa memenuhi nadzarnya tanpa merugikan
isterinya. Ibnul Qayyim menyatakan bahawa dalam syariat mereka tidak ada
kaffarat (denda). Jika dalam syariat mereka terdapat kaffarat, nescaya Ayyub
akan melakukannya tanpa perlu memukul isterinya. Sumpah bagi mereka adalah
sesuatu yang wajib, seperti hukuman had. Dan yang pasti adalah bahawa jika
pelaku kesalahan yang mengakibatkan hukuman mempunyai alasan, maka hukumannya
diringankan darinya dan isteri Ayyub memiliki alasan. Dia tidak mengetahui
bahawa yang berbicara dengannya adalah syaitan. Dia hanya bermaksud untuk
berbuat baik, maka dia tidak berhak untuk dihukum. Allah memberikan fatwa
kepada Ayyub agar memperlakukannya sebagai orang yang berudzur, ditambah kasih
sayang dan kebaikannya kepada Ayyub. Maka Allah mengumpulkan untuknya antara
memenuhi sumpah dan berlemah lembut kepada isterinya yang baik yang mempunyai
alasan dan tidak berhak untuk dihukum.
Hadis
ini membebaskan Ayyub dari kebohongan-kebohongan yang dinisbatkan oleh
orang-orang Yahudi kepada Ayyub. Hadis ini meluruskan dan membetulkan sejarah
Ayyub yang mereka ubah dan selewengkan.
KISAH KESEMBILAN BELAS
NABI YANG MEMBAKAR DESA SEMUT
Merosak
tidak disukai oleh Allah, bahkan merosak pohon-pohon dan haiwan-haiwan juga
tidak boleh. Oleh kerana itu, Allah melarang berbuat kerosakan di muka bumi. Di
antara kerosakan itu adalah kerosakan terhadap tanaman dan binatang. Pada hari
Kiamat seorang hamba akan ditanya tentang burung kecil yang dibunuhnya tanpa
alasan yang benar.
Termasuk
dalam hal ini adalah apa yang disampaikan oleh Rasulullah tentang teguran Allah
kepada salah seorang Nabi-Nya. Para Nabi memiliki tempat tersendiri di sisi
Allah, tetapi ini tidak menghalangi untuk meluruskan mereka jika tindak tanduk
mereka keliru walaupun itu remeh. Benar, Allah menegur Nabi atas tindakannya
yang membakar sebuah desa semut, hanya kerana seekor semut menggigitnya.
NASH HADIS
Bukhari
meriwayatkan dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah bersabda, "Seorang Nabi
singgah dibawa pohon, dia digigit oleh seekor semut. Dia memerintahkan agar
barang bawaannya dijauhkan dari bawah pohon itu.
Lalu
dia memerintahkan agar rumah semut itu dibakar Maka Allah mewahyukan kepadanya,
'Mengapa tidak hanya satu ekor semut saja?' Dalam riwayat Muslim dari Abu
Hurairah, "bahawasanya seekor semut menggigit salah seorang Nabi, maka dia
memerintahkan agar desa semut dibakar. Allah pun mewahyukan kepadanya, 'Hanya
kerana kamu digigit oleh seekor semut lalu kamu membinasakan sebuah umat yang
bertasbih.'
PENJELASAN
HADIS
Rasulullah
menyampaikan kepada kita bahawa salah seorang Nabi Allah singgah di bawah
pohon. Sepertinya dia berteduh dari panas matahari untuk beristirahat dari
lelahnya perjalanan. Di dekat dia berteduh terdapat sebuah desa semut. Mungkin
singgahnya Nabi ini dengan teman-temannya di bumi semut mengganggu mereka.
Biasanya semut melawan orang yang mengganggunya dan merosak ketenangannya.
Seekor semut datang dan menggigit Nabi itu. Seorang Nabi adalah manusia. Dia
pun marah seperti mereka. Kadang-kadang dia melakukan tindakan spontan yang
membuatnya menyesal setelah itu dan dia disalahkan kerananya. Di antaranya
adalah tindakan Nabi ini. Dia marah kepada seekor semut beserta teman-temannya.
Dia bertekad menghukum seluruh desa semut. Dia memerintahkan para pengikutnya
agar menjauhkan barangnya dari bawah pohon itu, kemudian dia menyulut api di
desa semut. Maka semut-semut yang sedang berjalan-jalan di desanya dan di
sekelilingnya terbakar dan panas api itu sampai kepada semut-semut yang berada
di lubangnya di dalam tanah.
Keadilan
menuntut orang yang tidak bersalah, tidak boleh dihukum kerana kesalahan orang
lain. Yang menggigit Nabi ini hanyalah seekor semut. Jika memang mesti dihukum,
maka semestinya yang dihukum hanyalah semut tersebut bukan yang lain. Nabi kita
mengajarkan kepada kita bahawa kita berhak melawan orang atau haiwan yang
menyerang kita, walaupun haiwan itu adalah haiwan jinak. Semut ini menyerang
dan menggigit. Jika orang yang digigitnya menghukumnya, maka dia tidak
disalahkan. Adapun menghukum semua semut yang ada di desa itu dan membakar
mereka dengan api, ini bukanlah suatu keadilan. Semut adalah umat ciptaan
Allah. Mereka bertasbih dan mensucikan Allah seperti haiwan-haiwan yang lain.
Manusia
tidak boleh menyerangnya, kecuali jika mereka menyakitinya. Oleh kerana itu,
Allah menyalahkan Nabi itu dan mencelanya kerana dia menghukum melampaui batas.
Dia meghukum semut yang tidak bersalah kerana kesalahan seekor semut. Dia
membunuh sebuah umat yang bertasbih kepada Allah. Dan Allah telah berfirman
kepadanya untuk menegurnya, "Mengapa tidak hanya satu semut saja? Hanya
kerana kamu digigit oleh seekor semut, kamu membinasakan umat yang bertasbih
kepada Allah."
Orang
yang terdidik untuk merasa bersalah jika membunuh seekor semut, dia tidak
mungkin setelah itu membunuh manusia tanpa salah dan tanpa alasan yang benar.
Dia akan menjadi contoh mulia yang menjaga nyawa hamba-hamba Allah sebagaimana
dia menjaga tanaman dan haiwan-haiwan.
PELAJARAN-PELAJARAN
DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
1.
Tidak boleh membunuh semut,
sebagaimana tidak boleh membunuh binatang lain, kecuali binatang yang menyerang
dan mengganggu. Dalam sebuah hadis terdapat larangan membunuh semut, tebuan,
hudhud, dan shurad.
∗ Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad shahih di atas syarat
Bukhari Muslim. Dikecualikan dari larangan membunuh binatang adalah binatang
fawasiq yang berjumlah lima, baik dibunuh di daerah halal maupun di daerah
haram. Fawasiq yang berjumlah lima ini sebagaimana dalam hadis riwayat Bukhari
dalam Shahih-nya adalah tikus, kalajengking, burung gagak, rajawali, dan anjing
penggigit. Selain kelima haiwan fawasiq ini Rasulullah juga memerintahkan
membunuh cicak. Beliau menyatakan bahawa membunuhnya adalah berpahala.
∗ Shurad adalah burung berkepala besar dan berparuh besar,
perutnya putih, punggungnya hijau, memangsa serangga dan burung kecil. [pent]
2. Begitu juga beliau memerintahkan membunuh
ular, kecuali ular rumah yang tidak dibunuh hingga diperingatkan tiga kali;
jika setelah itu masih terlihat di rumah, maka bunuhlah. Dan dikecualikan dari
ini adalah dua macam ular, iaitu ular berekor pendek dan ular dengan dua garis
putih di punggungnya. Keduanya dibunuh secara mutlak walaupun tinggal di rumah,
kerana keduanya bisa menyebabkan keguguran dan kebutaan.
3.
Membakar
makhluk hidup tidak dibolehkan dalam syariat kita. Nabi menjelaskan alasan
larangan ini, iaitu bahawa yang berhak mengadzab dengan api hanyalah pemilik
api. Dan ini mungkin dibolehkan di alam syariat sebelum kita, kerananya Nabi
ini membakar desa semut.
4.
Semut bertasbih kepada Allah
sebagaimana dinyatakan dalam hadis. Allah telah memberitakan bahawa segala
sesuatu bertasbih dengan memuji Allah, "Dan
tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian
tidak mengerti tasbih mereka." (QS. Al-Isra: 44)
5.
Hadis
ini menyampaikan bahawa semut adalah sebuah umat. Allah telah memberitakan
bahawa makhluk-makhluk, burung-burung dan haiwan-haiwan, semuanya adalah umat
seperti kita. "Dan tiadalah
binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua
sayapnya melainkan umat-umat juga seperti kamu." (QS. Al-Anam: 38)
6.
Kajian-kajian modern telah sampai
pada hakikat ini melalui pengamatan, penelitian dan pemikiran.
No comments:
Post a Comment